ELING LAN WASPADA, TANGGAP ING SASMITA

Dalam khazanah budaya Jawa terdapat banyak falsafah kehidupan yang mengandung ajaran tentang bagaimana manusia seharusnya menjalani kehidupannya dengan bijaksana. Salah satunya adalah ungkapan “Eling lan waspada, tanggap ing sasmita.” Falsafah ini mengajarkan manusia agar selalu ingat, sadar, waspada, serta mampu membaca tanda-tanda atau isyarat yang muncul dalam kehidupan.

Secara sederhana, eling berarti ingat dan sadar; waspada berarti berhati-hati serta tidak gegabah; sedangkan tanggap ing sasmita berarti peka dan mampu memahami tanda, keadaan, suasana, maupun pesan yang tersirat. Ketiganya membentuk sikap hidup yang sangat relevan dalam menghadapi kehidupan modern yang penuh perubahan, godaan, informasi, dan berbagai pilihan.

Dalam perspektif Islam, nilai-nilai tersebut memiliki keselarasan dengan konsep takwa, muraqabah, tafakkur, tabayyun, hikmah, dan muhasabah. Seorang Muslim tidak hanya dituntut melakukan banyak amal, tetapi juga harus memiliki kesadaran kepada Allah, mampu membedakan yang benar dan salah, berhati-hati terhadap berbagai informasi, serta belajar dari pengalaman.

Al-Qur’an mengingatkan orang beriman agar memperhatikan apa yang telah dipersiapkan untuk hari esok. QS. Al-Hasyr ayat 18 memerintahkan orang beriman untuk bertakwa kepada Allah dan memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk kehidupan akhirat. 

Dengan demikian, falsafah “Eling lan Waspada, Tanggap ing Sasmita” dapat menjadi salah satu sarana refleksi budaya untuk memperkuat kehidupan seorang Muslim, selama nilai tersebut ditempatkan sebagai hikmah budaya dan dikaitkan dengan prinsip tauhid serta ajaran Islam.

1. Makna “Eling”: Senantiasa Ingat dan Sadar kepada Allah

Kata eling mempunyai makna yang sangat dalam. Dalam kehidupan sehari-hari, eling dapat dimaknai sebagai selalu sadar terhadap siapa diri kita, dari mana kita berasal, untuk apa kita hidup, dan ke mana kehidupan ini akan berakhir.

Dalam perspektif Islam, kesadaran tertinggi adalah kesadaran kepada Allah SWT.

Manusia sering terlena karena kesibukan dunia. Mengejar harta, jabatan, popularitas, kenyamanan, dan berbagai keinginan dapat membuat manusia lupa bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara.

Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Dia menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.”

(QS. Al-Hasyr: 19)

Ayat ini memberikan pelajaran penting bahwa melupakan Allah pada akhirnya dapat menyebabkan manusia kehilangan arah dalam memahami dirinya sendiri.

Karena itu, eling bukan sekadar mengingat Allah dengan ucapan, tetapi menghadirkan kesadaran bahwa Allah selalu mengetahui apa yang kita lakukan.

Nabi Muhammad ï·º mengajarkan pentingnya takwa di mana pun seseorang berada. Dalam hadis riwayat Tirmidzi, beliau bersabda agar seseorang bertakwa kepada Allah di mana pun ia berada, kemudian menghindari keburukan dengan kebaikan dan memperlakukan manusia dengan akhlak yang baik. 

Inilah hakikat eling: ketika sendirian tetap ingat Allah, ketika bersama orang lain tetap menjaga akhlak, ketika mendapatkan nikmat tetap bersyukur, dan ketika menghadapi kesulitan tetap bersabar.

2. “Eling” Berarti Menyadari Tujuan Kehidupan

Kesadaran kepada Allah harus melahirkan kesadaran tentang tujuan hidup.

Allah SWT berfirman:

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ayat tersebut mengajarkan bahwa kehidupan manusia bukan sekadar mengejar kesenangan dunia. Harta, pekerjaan, keluarga, kesehatan, jabatan, dan ilmu merupakan sarana untuk menjalankan amanah kehidupan.

Orang yang eling akan berusaha menempatkan dunia di tangannya, bukan di hatinya.

Ia boleh kaya, tetapi tidak diperbudak kekayaan. Ia boleh memiliki jabatan, tetapi tidak sombong karena jabatan. Ia boleh menikmati kehidupan, tetapi tidak melupakan akhirat.

Karena itu, semakin bertambah usia seseorang, semestinya semakin kuat pula kesadarannya bahwa kehidupan dunia memiliki batas.

3. Makna “Waspada”: Tidak Gegabah dalam Menjalani Kehidupan

Setelah manusia memiliki kesadaran, ia harus memiliki waspada.

Waspada bukan berarti selalu curiga kepada orang lain. Waspada berarti memiliki kehati-hatian, kemampuan mempertimbangkan akibat, dan tidak mudah mengambil keputusan berdasarkan emosi sesaat.

Islam sangat menekankan sikap hati-hati.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 6 agar orang beriman melakukan pemeriksaan atau tabayyun ketika menerima suatu berita dari orang yang tidak dapat dipercaya, sehingga seseorang tidak bertindak keliru dan akhirnya menyesal.

Prinsip ini sangat relevan pada zaman sekarang.

Setiap hari manusia menerima begitu banyak informasi melalui media sosial. Tidak semua informasi benar. Tidak semua video sesuai kenyataan. Tidak semua berita yang viral layak dipercaya.

Maka waspada berarti:

tidak mudah percaya;

tidak mudah menyebarkan berita;

memeriksa sumber informasi;

tidak mengambil keputusan ketika sedang marah;

tidak tergoda keuntungan yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan;

berhati-hati dalam memilih pergaulan;

mempertimbangkan dampak sebelum bertindak.

Dengan demikian, waspada merupakan bentuk kecerdasan dalam mengendalikan diri.

4. Waspada terhadap Godaan Dunia

Manusia memiliki kelemahan berupa keinginan terhadap harta, kedudukan, kesenangan, dan pengakuan.

Allah SWT mengingatkan bahwa kehidupan dunia dihiasi berbagai kesenangan, tetapi manusia harus menyadari bahwa kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal.

Karena itu, orang yang eling lan waspada tidak akan mudah diperbudak oleh keinginan.

Ketika mendapatkan uang, ia bertanya: dari mana uang tersebut diperoleh dan untuk apa digunakan?

Ketika mendapatkan jabatan, ia bertanya: apakah jabatan ini digunakan untuk melayani atau justru mencari keuntungan pribadi?

Ketika memperoleh popularitas, ia bertanya: apakah ketenaran ini mendekatkan dirinya kepada Allah atau justru menumbuhkan kesombongan?

Kesadaran seperti inilah yang membuat manusia mampu mengendalikan kehidupan, bukan dikendalikan oleh hawa nafsu.

5. Makna “Tanggap ing Sasmita”: Peka Membaca Tanda Kehidupan

Bagian yang sangat menarik dari falsafah ini adalah “tanggap ing sasmita.”

“Sasmita” dapat dipahami sebagai tanda, isyarat, atau pesan yang tersirat. Sedangkan “tanggap” berarti mampu merespons dengan tepat.

Dalam kehidupan, tidak semua pesan disampaikan secara langsung.

Seorang ayah mungkin tidak mengatakan bahwa ia sedang lelah, tetapi dapat terlihat dari ekspresi wajah dan sikapnya.

Seorang ibu mungkin tidak mengeluh, tetapi perubahan perilakunya dapat menjadi tanda bahwa ia membutuhkan perhatian.

Seorang teman mungkin tidak mengatakan bahwa dirinya sedang mengalami kesulitan, tetapi kita dapat melihat dari perubahan sikapnya.

Orang yang tanggap ing sasmita memiliki kepekaan sosial.

Ia tidak hanya mendengar kata-kata, tetapi juga berusaha memahami keadaan.

Dalam Islam, kepekaan terhadap sesama merupakan bagian dari akhlak mulia. Rasulullah ï·º mengajarkan umatnya untuk memperlakukan manusia dengan akhlak yang baik. Hadis tentang takwa juga secara langsung menggabungkan ketakwaan kepada Allah dengan kewajiban memperbaiki hubungan sosial. 

6. Tanggap Bukan Berarti Mudah Berprasangka

Namun, tanggap ing sasmita harus dibedakan dari prasangka buruk.

Peka terhadap keadaan bukan berarti merasa mengetahui isi hati orang lain.

Islam melarang manusia terlalu mudah berprasangka. QS. Al-Hujurat ayat 12 mengingatkan agar orang beriman menjauhi banyak prasangka karena sebagian prasangka merupakan dosa.

Karena itu, ketika melihat seseorang berubah sikap, jangan langsung menyimpulkan bahwa ia membenci kita.

Mungkin ia sedang mempunyai masalah.

Ketika seseorang tidak menyapa, jangan langsung menganggapnya sombong.

Mungkin ia sedang tidak melihat atau sedang memikirkan sesuatu.

Ketika seseorang melakukan kesalahan, jangan langsung menghakimi seluruh kehidupannya.

Di sinilah diperlukan keseimbangan antara peka dan tabayyun.

Tanggap terhadap tanda, tetapi tetap mencari kebenaran.

Peka terhadap keadaan, tetapi tidak mudah menuduh.

Waspada terhadap kemungkinan, tetapi tidak hidup dalam kecurigaan.

7. Belajar dari Pengalaman: Jangan Mengulangi Kesalahan yang Sama

Salah satu penerapan penting falsafah eling lan waspada adalah kemampuan mengambil pelajaran dari pengalaman.

Manusia memang tidak luput dari kesalahan. Namun, kesalahan seharusnya menjadi guru.

Rasulullah ï·º bersabda:

“Seorang mukmin tidak disengat dari lubang yang sama dua kali.”

Hadis ini diriwayatkan antara lain dalam Shahih Muslim dan Sunan Abi Dawud. 

Maknanya bukan bahwa seorang mukmin tidak pernah mengalami kegagalan. Akan tetapi, seorang mukmin seharusnya belajar dari pengalaman sehingga tidak terus-menerus mengulangi kesalahan yang sama.

Pernah tertipu, menjadi lebih hati-hati.

Pernah salah memilih teman, menjadi lebih bijaksana dalam bergaul.

Pernah gagal mengelola keuangan, belajar mengatur keuangan.

Pernah salah mengambil keputusan karena emosi, belajar menenangkan diri sebelum bertindak.

Inilah eling terhadap pengalaman dan waspada terhadap kemungkinan terulangnya kesalahan.

8. Penerapan dalam Kehidupan Keluarga

Falsafah ini sangat penting diterapkan dalam keluarga.

Suami harus eling bahwa istri adalah amanah Allah.

Istri harus eling bahwa suami juga merupakan amanah.

Orang tua harus eling bahwa anak bukan sekadar penerus keturunan, tetapi amanah yang harus dididik.

Anak harus eling bahwa orang tua memiliki jasa besar dalam kehidupannya.

Kemudian keluarga harus waspada terhadap berbagai ancaman yang dapat merusak keharmonisan, seperti komunikasi yang buruk, kecanduan gawai, perselingkuhan, konsumtivisme, konflik karena keuangan, dan pengaruh lingkungan negatif.

Sementara tanggap ing sasmita berarti setiap anggota keluarga mau membaca keadaan anggota keluarga lainnya.

Kadang-kadang keluarga tidak membutuhkan nasihat panjang. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengar.

Kadang-kadang pasangan tidak membutuhkan hadiah mahal. Ia hanya membutuhkan perhatian.

Kadang-kadang anak tidak membutuhkan hukuman. Ia membutuhkan orang tua yang mau memahami perasaannya.

9. Penerapan dalam Kehidupan Sosial

Dalam kehidupan bermasyarakat, prinsip ini dapat membentuk pribadi yang santun dan bijaksana.

Orang yang eling akan menyadari bahwa setiap manusia memiliki kehormatan.

Orang yang waspada tidak mudah terprovokasi.

Orang yang tanggap ing sasmita mampu memahami situasi sebelum berbicara.

Ia tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam.

Ia tahu kapan harus memberikan nasihat dan kapan cukup menjadi pendengar.

Ia tidak mempermalukan orang lain di depan umum.

Ia tidak menyebarkan aib.

Ia tidak mudah ikut-ikutan dalam konflik.

Sikap semacam ini sangat penting dalam era media sosial karena sebuah ucapan yang ditulis dalam beberapa detik dapat menimbulkan masalah yang berlangsung bertahun-tahun.

10. Penerapan dalam Mengelola Harta dan Pekerjaan

Dalam urusan ekonomi, eling lan waspada juga sangat penting.

Eling berarti menyadari bahwa rezeki berasal dari Allah dan manusia berkewajiban mencarinya melalui jalan yang halal.

Waspada berarti berhati-hati terhadap penipuan, investasi ilegal, utang konsumtif, perjudian, serta berbagai bentuk keuntungan yang tidak jelas.

Tanggap ing sasmita berarti mampu membaca perubahan keadaan ekonomi dan mengambil keputusan secara rasional.

Seorang Muslim hendaknya tidak mudah tergoda dengan janji keuntungan besar tanpa memahami risiko.

Ia juga perlu melakukan perencanaan, mencatat pemasukan dan pengeluaran, menghindari pemborosan, menyiapkan dana darurat, serta menyisihkan sebagian rezeki untuk zakat, infak, sedekah, dan membantu sesama.

11. Penerapan bagi Orang yang Memasuki Usia Lanjut

Falsafah ini semakin penting ketika seseorang memasuki usia lanjut.

Pada fase kehidupan ini, eling berarti semakin menyadari bahwa umur adalah amanah dan kehidupan dunia semakin mendekati batas akhirnya.

Waspada berarti menjaga kesehatan, menghindari aktivitas yang berisiko, mengelola keuangan dengan bijaksana, serta menjaga hubungan baik dengan keluarga.

Tanggap ing sasmita berarti peka terhadap perubahan tubuh, kondisi psikologis, kebutuhan pasangan, anak, cucu, dan lingkungan sosial.

Usia lanjut bukan berarti berhenti memberikan manfaat.

Justru pengalaman hidup yang panjang dapat menjadi sumber hikmah bagi generasi berikutnya.

Orang tua dapat menjadi teladan dalam kesabaran, kesederhanaan, kejujuran, ibadah, dan kebijaksanaan.

12. Muhasabah: Bentuk Nyata dari Eling

Salah satu cara menerapkan falsafah ini adalah melakukan muhasabah atau evaluasi diri.

Setiap malam, seseorang dapat bertanya kepada dirinya sendiri:

Apa kebaikan yang sudah saya lakukan hari ini?

Apa kesalahan yang saya lakukan?

Siapa yang mungkin saya sakiti?

Apakah saya sudah menjalankan kewajiban kepada Allah?

Apakah saya sudah berbuat baik kepada keluarga?

Apakah keputusan saya hari ini membawa manfaat atau mudarat?

Apa yang harus saya perbaiki besok?

Prinsip tersebut sejalan dengan QS. Al-Hasyr ayat 18 yang memerintahkan orang beriman agar memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. 

Dengan muhasabah, pengalaman hari ini menjadi bahan perbaikan untuk hari esok.

13. Tiga Tahapan Praktis: Eling, Waspada, Tanggap

Falsafah ini dapat diterapkan dalam kehidupan melalui tiga tahapan sederhana.

Pertama: Eling sebelum bertindak

Sebelum melakukan sesuatu, tanyakan:

“Apakah Allah ridha dengan tindakan saya?”

Ini akan menjadi rem moral.

Kedua: Waspada ketika mengambil keputusan

Jangan terburu-buru.

Kumpulkan informasi.

Periksa fakta.

Pertimbangkan manfaat dan mudarat.

Mintalah nasihat kepada orang yang kompeten.

Lakukan istikharah ketika menghadapi pilihan penting.

Ketiga: Tanggap setelah memahami keadaan

Setelah mendapatkan informasi dan memahami situasi, lakukan tindakan yang tepat.

Jangan hanya mengetahui tetapi tidak bertindak.

Orang yang bijaksana bukan hanya mampu melihat masalah, tetapi juga berusaha memberikan solusi.

14. Menyatukan Kearifan Jawa dan Nilai Islam

Falsafah Jawa “Eling lan Waspada, Tanggap ing Sasmita” dapat dipahami sebagai sebuah ajaran moral dan kearifan lokal yang memiliki titik temu dengan berbagai prinsip Islam.

Eling berdekatan dengan kesadaran takwa dan mengingat Allah.

Waspada sejalan dengan sikap hati-hati, tabayyun, dan tidak gegabah.

Tanggap ing sasmita sejalan dengan kepekaan sosial, hikmah, dan kemampuan memahami keadaan.

Namun, bagi seorang Muslim, sumber kebenaran dan pedoman utama tetaplah Al-Qur’an dan Sunnah. Falsafah budaya dapat menjadi sarana refleksi selama tidak bertentangan dengan akidah dan syariat.

Dengan demikian, budaya dan agama dapat saling memperkaya dalam membentuk manusia yang berakhlak.

“Eling lan Waspada, Tanggap ing Sasmita” merupakan falsafah yang mengandung pesan mendalam untuk menjalani kehidupan dengan kesadaran, kehati-hatian, dan kepekaan.

Eling mengajarkan agar manusia tidak lupa kepada Allah, tujuan hidup, amanah, keluarga, serta kehidupan akhirat.

Waspada mengajarkan agar manusia tidak gegabah, tidak mudah percaya, mampu melakukan tabayyun, belajar dari pengalaman, dan berhati-hati terhadap berbagai godaan kehidupan.

Sedangkan tanggap ing sasmita mengajarkan kepekaan membaca keadaan, memahami pesan yang tersirat, menjaga perasaan orang lain, serta merespons persoalan secara bijaksana.

Semua itu memiliki relevansi kuat dengan ajaran Islam. Nabi Muhammad ï·º mengajarkan ketakwaan di mana pun berada, memperbaiki keburukan dengan kebaikan, dan memperlakukan manusia dengan akhlak yang baik.  Beliau juga mengingatkan agar seorang mukmin tidak mengulangi kesalahan yang sama. 

Pada akhirnya, kehidupan yang baik bukan hanya tentang memiliki banyak harta, jabatan, atau kesenangan. Kehidupan yang baik adalah kehidupan yang dijalani dengan kesadaran kepada Allah, kehati-hatian dalam mengambil keputusan, kepekaan terhadap sesama, kemampuan belajar dari pengalaman, dan kesungguhan memperbaiki diri.

Maka marilah kita menjalani kehidupan dengan prinsip:

Eling marang Gusti Allah,
Waspada marang godaan lan kesalahan,
Tanggap ing sasmita marang kahanan,
Lan tumindak kanthi hikmah lan akhlak mulia.

Dengan demikian, falsafah tersebut tidak berhenti sebagai ungkapan budaya, tetapi menjadi pedoman praktis untuk membangun kehidupan yang lebih tenang, harmonis, bermanfaat, bermartabat, dan diridai Allah SWT.

By Suprapto BZ





0/Post a Comment/Comments

Ads1
Ads2