Nerima Ing Pandum

Dalam khazanah budaya Jawa terdapat banyak falsafah kehidupan yang mengajarkan manusia untuk menjalani hidup dengan bijaksana, sederhana, dan penuh kesadaran. Salah satu falsafah yang sangat terkenal adalah “Nerima ing pandum.” Ungkapan ini secara sederhana dapat dimaknai sebagai menerima bagian atau pemberian yang telah menjadi jatah kehidupan seseorang. Namun, maknanya jauh lebih dalam daripada sekadar menerima keadaan.

“Nerima ing pandum” mengajarkan manusia untuk menerima kenyataan dengan lapang dada, mensyukuri apa yang dimiliki, tidak berlebihan dalam menuntut, serta tetap berusaha memperbaiki kehidupan. Sikap menerima bukan berarti pasrah tanpa ikhtiar. Sebaliknya, falsafah ini mengajarkan keseimbangan antara usaha, penerimaan, rasa syukur, kesabaran, dan kebijaksanaan dalam menghadapi hasil kehidupan.

Dalam kehidupan modern yang penuh persaingan, tuntutan, dan keinginan yang tidak ada habisnya, falsafah “nerima ing pandum” menjadi semakin relevan. Banyak orang merasa tidak bahagia bukan karena kekurangan sesuatu yang benar-benar dibutuhkan, tetapi karena terus membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain. Keinginan yang tidak terkendali sering membuat seseorang kehilangan rasa syukur terhadap apa yang telah dimiliki.

Karena itu, memahami “nerima ing pandum” secara benar dapat membantu seseorang menjalani kehidupan yang lebih tenang, realistis, produktif, dan bermakna.

1. Makna Filosofis “Nerima Ing Pandum”

Secara bahasa, “nerima” berarti menerima, sedangkan “pandum” dapat dipahami sebagai bagian, pemberian, atau jatah yang diterima seseorang. Secara filosofis, “nerima ing pandum” berarti kemampuan seseorang untuk menerima kenyataan hidup dengan hati yang lapang setelah melakukan usaha secara sungguh-sungguh.

Penerimaan tersebut mencakup berbagai keadaan: menerima kelebihan dan kekurangan, keberhasilan dan kegagalan, kemudahan dan kesulitan, serta sesuatu yang sesuai dengan harapan maupun sesuatu yang berada di luar harapan.

Namun, penting untuk memahami bahwa “nerima ing pandum” bukanlah sikap menyerah terhadap keadaan.

Orang yang memahami falsafah ini tetap bekerja keras, belajar, berusaha, merencanakan masa depan, dan memperbaiki kehidupannya. Setelah melakukan usaha secara maksimal, ia mampu menerima hasil dengan lapang dada dan menjadikannya sebagai bahan evaluasi untuk melangkah lebih baik.

Dengan demikian, “nerima ing pandum” dapat dirumuskan sebagai:

Berusaha sebaik mungkin, menerima hasil dengan lapang dada, mensyukuri apa yang dimiliki, dan terus memperbaiki diri tanpa dikuasai oleh rasa iri, kecewa, dan ketidakpuasan.

2. “Nerima” Bukan Berarti Pasrah Tanpa Usaha

Salah satu kesalahpahaman terhadap falsafah “nerima ing pandum” adalah menganggapnya sebagai ajaran untuk pasrah terhadap keadaan.

Pemahaman seperti itu kurang tepat.

Jika seseorang memiliki kondisi ekonomi yang kurang baik, “nerima ing pandum” bukan berarti ia tidak perlu bekerja. Jika seorang pelajar mendapatkan nilai rendah, bukan berarti ia cukup menerima tanpa belajar lebih giat. Jika seseorang mengalami kegagalan dalam usaha, bukan berarti ia harus berhenti mencoba.

“Nerima” justru harus ditempatkan setelah ikhtiar.

Manusia memiliki kewajiban untuk berusaha, sedangkan hasil akhir tidak selalu berada sepenuhnya dalam kendali manusia. Di sinilah sikap menerima menjadi penting.

Seseorang dapat mengendalikan usaha, tetapi tidak selalu dapat mengendalikan hasil. Ia dapat merencanakan, tetapi kehidupan terkadang memiliki jalan yang berbeda dari rencana manusia.

Karena itu, prinsip yang sehat adalah:

Ikhtiar sebelum hasil, menerima setelah hasil, kemudian mengevaluasi untuk menentukan langkah berikutnya.

Pola ini membuat seseorang tidak mudah terjebak dalam penyesalan berkepanjangan.

3. Hubungan “Nerima Ing Pandum” dengan Rasa Syukur

“Nerima ing pandum” memiliki hubungan yang sangat erat dengan rasa syukur.

Syukur bukan berarti seseorang berhenti memiliki cita-cita. Syukur berarti mampu melihat nilai dan kebaikan yang sudah ada dalam kehidupan sambil tetap berusaha mencapai sesuatu yang lebih baik.

Seseorang boleh bercita-cita memiliki rumah yang lebih baik, tetapi ia tetap bersyukur atas rumah yang saat ini ditempatinya. Seseorang boleh menginginkan penghasilan yang lebih besar, tetapi ia tetap menghargai pekerjaan yang menjadi sumber penghidupannya.

Sikap seperti ini membuat seseorang tidak hidup dalam kekurangan psikologis.

Sebaliknya, orang yang selalu membandingkan dirinya dengan orang lain akan mudah merasa kurang. Ketika memiliki kendaraan sederhana, ia melihat kendaraan orang lain yang lebih mahal. Ketika memiliki rumah kecil, ia membandingkannya dengan rumah orang lain yang lebih besar. Ketika memiliki penghasilan tertentu, ia merasa kurang karena melihat orang lain memperoleh lebih banyak.

Akibatnya, kehidupan yang sebenarnya sudah cukup menjadi terasa tidak cukup.

“Nerima ing pandum” mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan menikmati dan mensyukuri apa yang telah dimiliki.

4. Menghindarkan Diri dari Iri dan Perbandingan Sosial

Salah satu sumber ketidakbahagiaan manusia adalah kebiasaan membandingkan dirinya dengan orang lain.

Media sosial semakin memperkuat fenomena tersebut. Seseorang dapat melihat keberhasilan, kekayaan, perjalanan, rumah, kendaraan, maupun gaya hidup orang lain hanya melalui layar telepon.

Masalahnya, manusia sering membandingkan kehidupan nyata dirinya dengan bagian terbaik kehidupan orang lain yang ditampilkan kepada publik.

“Nerima ing pandum” mengajarkan seseorang untuk kembali fokus pada perjalanan hidupnya sendiri.

Setiap orang memiliki kondisi, kesempatan, tantangan, kemampuan, dan jalan hidup yang berbeda. Karena itu, keberhasilan seseorang tidak harus menjadi ukuran keberhasilan orang lain.

Menerima pandum berarti memahami bahwa setiap orang mempunyai perjalanan masing-masing.

Daripada bertanya, “Mengapa hidup saya tidak seperti dia?”, lebih baik bertanya:

“Apa yang dapat saya lakukan agar kehidupan saya menjadi lebih baik dari hari kemarin?”

Pertanyaan tersebut mengubah fokus dari iri menjadi pertumbuhan.

5. Mengajarkan Kesederhanaan dalam Kehidupan

Falsafah “nerima ing pandum” juga mengandung nilai kesederhanaan.

Kesederhanaan bukan berarti hidup tanpa cita-cita atau menolak kemajuan. Kesederhanaan adalah kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Manusia memiliki kebutuhan dasar, tetapi keinginan dapat berkembang tanpa batas. Ketika satu keinginan terpenuhi, muncul keinginan berikutnya.

Jika tidak dikendalikan, manusia dapat terjebak dalam siklus:

ingin → mendapatkan → terbiasa → merasa kurang → ingin lagi.

Siklus tersebut membuat seseorang sulit merasa cukup.

“Nerima ing pandum” mengajarkan pentingnya mengenali batas. Ketika kebutuhan telah terpenuhi dan kehidupan berjalan dengan baik, seseorang tidak perlu memaksakan diri mengejar sesuatu hanya demi gengsi atau pengakuan sosial.

Kesederhanaan pada akhirnya dapat memberikan ruang bagi manusia untuk menikmati keluarga, kesehatan, persahabatan, lingkungan, dan kehidupan spiritual.

6. Membangun Ketahanan Mental Menghadapi Kegagalan

Kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan. Ada saat seseorang mengalami kegagalan, kehilangan, penolakan, kesulitan ekonomi, konflik, atau berbagai masalah lainnya.

“Nerima ing pandum” dapat menjadi salah satu sikap mental untuk menghadapi kondisi tersebut.

Menerima kenyataan bukan berarti menyukai kegagalan. Menerima berarti mengakui bahwa sesuatu telah terjadi dan tidak dapat diubah kembali.

Setelah menerima kenyataan, seseorang dapat mengalihkan energi dari pertanyaan:

“Mengapa ini terjadi kepada saya?”

menjadi:

“Apa yang dapat saya pelajari dari kejadian ini?”

Perubahan pertanyaan tersebut sangat penting.

Kegagalan dapat menjadi guru. Kesulitan dapat membentuk ketangguhan. Keterbatasan dapat mengajarkan kreativitas. Kehilangan dapat mengajarkan penghargaan terhadap apa yang masih dimiliki.

Dengan demikian, “nerima ing pandum” bukan sekadar menerima kenyataan, tetapi mengolah kenyataan menjadi kebijaksanaan.

7. Relevansinya dengan Kehidupan Keluarga

Dalam kehidupan keluarga, falsafah ini juga sangat penting.

Setiap anggota keluarga memiliki karakter, kemampuan, dan kekurangan masing-masing. Suami dan istri tidak selalu memiliki pandangan yang sama. Anak-anak juga memiliki kepribadian dan kemampuan yang berbeda.

“Nerima ing pandum” mengajarkan pentingnya menerima anggota keluarga tanpa kehilangan keinginan untuk saling memperbaiki.

Orang tua perlu menerima bahwa setiap anak memiliki keunikan. Anak tidak seharusnya terus dibandingkan dengan anak lain.

Demikian pula dalam kehidupan suami istri. Kebahagiaan rumah tangga bukan dibangun dari pasangan yang sempurna, melainkan dari dua manusia yang bersedia saling menerima, memahami, memperbaiki diri, dan bekerja sama.

Menerima kekurangan bukan berarti membiarkan kesalahan. Kesalahan tetap perlu diperbaiki. Namun, proses memperbaiki akan lebih efektif jika dilakukan dengan kasih sayang dan penghargaan.

8. Perspektif Spiritual: Menerima Takdir dan Tetap Berikhtiar

Dalam perspektif spiritual Islam, nilai “nerima ing pandum” memiliki titik temu dengan konsep qanaah, syukur, sabar, ikhtiar, dan tawakal.

Seorang Muslim diajarkan untuk berusaha dengan sungguh-sungguh, kemudian menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah Swt.

Qanaah bukan berarti tidak memiliki cita-cita. Qanaah berarti hati merasa cukup terhadap pemberian Allah setelah melakukan ikhtiar yang benar.

Sementara tawakal bukan berarti meninggalkan usaha. Tawakal adalah bersandar kepada Allah setelah melakukan usaha yang optimal.

Dengan demikian, sikap hidup yang ideal bukan:

“Saya tidak perlu berusaha karena semuanya sudah ditentukan.”

Melainkan:

“Saya akan berusaha sebaik mungkin, berdoa, kemudian menerima hasil yang Allah berikan dengan sabar dan penuh keyakinan.”

Sikap ini dapat membangun ketenangan batin karena manusia menyadari bahwa dirinya memiliki keterbatasan.

9. “Nerima Ing Pandum” dan Kesehatan Mental

Dalam kehidupan modern, tekanan hidup semakin kompleks. Tuntutan pekerjaan, ekonomi, pendidikan, keluarga, serta berbagai ekspektasi sosial dapat membuat seseorang mengalami tekanan.

Sikap menerima secara sehat dapat membantu seseorang mengurangi beban dari keinginan yang tidak realistis.

Orang yang selalu ingin mengendalikan segala sesuatu akan mudah kecewa ketika realitas tidak sesuai dengan harapannya.

Sebaliknya, orang yang mampu membedakan antara hal yang dapat dikendalikan dan hal yang tidak dapat dikendalikan akan lebih mudah mengelola emosinya.

Hal yang dapat dikendalikan antara lain usaha, sikap, keputusan, disiplin, dan cara merespons masalah.

Hal yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan antara lain pendapat orang lain, masa lalu, kondisi tertentu, dan hasil akhir dari setiap usaha.

Kebijaksanaan terletak pada kemampuan memusatkan energi pada hal-hal yang dapat diperbaiki.

10. Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari

“Nerima ing pandum” dapat diterapkan melalui beberapa kebiasaan sederhana.

Pertama, mulailah hari dengan rasa syukur. Sadari bahwa masih ada banyak hal berharga dalam kehidupan.

Kedua, tetapkan target yang realistis. Jangan menjadikan kehidupan orang lain sebagai standar mutlak.

Ketiga, bekerjalah dengan sungguh-sungguh. Penerimaan tidak boleh menjadi alasan untuk bermalas-malasan.

Keempat, belajar menerima hasil. Jika berhasil, bersyukurlah. Jika gagal, evaluasilah.

Kelima, kurangi kebiasaan membandingkan diri. Bandingkan diri dengan diri sendiri pada masa lalu.

Keenam, bedakan kebutuhan dan keinginan. Tidak semua yang diinginkan harus dimiliki.

Ketujuh, belajar menikmati proses. Kehidupan bukan hanya tentang mencapai tujuan, tetapi juga tentang perjalanan menuju tujuan tersebut.

Kedelapan, perbanyak berbagi. Berbagi membuat seseorang menyadari bahwa kebahagiaan tidak hanya berasal dari menerima, tetapi juga dari memberi manfaat kepada orang lain.

11. Batasan Penting: Jangan Menjadikan “Nerima” sebagai Alasan Berhenti Berkembang

Falsafah ini perlu dipahami secara proporsional. “Nerima ing pandum” tidak boleh digunakan untuk membenarkan kemalasan, ketidakadilan, atau keadaan yang sebenarnya masih dapat diperbaiki.

Jika seseorang berada dalam kemiskinan, ia tetap perlu berusaha meningkatkan kemampuan ekonomi. Jika memiliki ilmu yang terbatas, ia tetap perlu belajar. Jika melakukan kesalahan, ia tetap perlu memperbaikinya.

Menerima keadaan sekarang dan berusaha memperbaiki masa depan bukanlah dua hal yang bertentangan.

Justru keduanya harus berjalan bersama.

Kita menerima posisi kita hari ini, tetapi tidak harus berhenti berusaha menjadi lebih baik esok hari.

Inilah keseimbangan yang paling penting.

Falsafah Jawa “Nerima Ing Pandum” merupakan ajaran kehidupan yang sederhana tetapi memiliki kedalaman makna. Ia mengajarkan manusia untuk menerima apa yang telah menjadi bagian hidupnya dengan lapang dada, mensyukuri apa yang dimiliki, tidak iri terhadap kehidupan orang lain, serta tetap berusaha memperbaiki keadaan.

“Nerima” bukan berarti menyerah. “Pandum” bukan berarti alasan untuk berhenti bermimpi.

Makna yang lebih mendalam adalah menerima hasil tanpa kehilangan semangat untuk berusaha.

Manusia perlu memiliki cita-cita, tetapi juga perlu memiliki kemampuan menerima kenyataan. Manusia perlu mengejar kemajuan, tetapi tidak boleh kehilangan rasa syukur. Manusia perlu bekerja keras, tetapi juga perlu memahami bahwa tidak semua hasil berada dalam kendalinya.

Pada akhirnya, kehidupan yang baik bukanlah kehidupan tanpa masalah. Kehidupan yang baik adalah kehidupan yang dijalani dengan usaha yang sungguh-sungguh, hati yang bersyukur, pikiran yang bijaksana, kesabaran dalam menghadapi ujian, serta kemampuan menerima apa yang tidak dapat diubah.

“Nerima ing pandum” mengajarkan kita untuk berkata dalam hati:

“Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk kehidupanku, tetapi aku tidak akan membiarkan hasil yang tidak sesuai harapan menghancurkan ketenangan hatiku.”

Dengan prinsip tersebut, seseorang dapat menjalani kehidupan dengan lebih tenang, tidak mudah iri, tidak mudah kecewa, dan tidak mudah kehilangan arah.

Karena sesungguhnya, kebahagiaan bukan hanya tentang memperoleh sebanyak-banyaknya, melainkan juga tentang mampu menerima, mensyukuri, menikmati, dan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya apa yang telah dimiliki untuk menjadi manusia yang lebih baik dan lebih bermanfaat bagi sesama.

By Suprapto BZ





0/Post a Comment/Comments

Ads1
Ads2