Masyarakat Jawa memiliki kekayaan filosofi kehidupan yang lahir dari pengalaman panjang dalam membaca alam, memahami hubungan antarmanusia, serta mencari keseimbangan antara kebutuhan lahir dan batin. Filosofi Jawa tidak selalu hadir dalam bentuk teori yang rumit, tetapi sering diwujudkan melalui ungkapan sederhana yang mudah diingat dan dipraktikkan.
Salah satu ungkapan yang menarik untuk direnungkan adalah “Bener, Wajar lan Seger.” Secara sederhana, bener berarti benar atau lurus; wajar berarti pantas, proporsional, tidak berlebihan; sedangkan seger berarti segar, sehat, hidup, dan memiliki semangat yang baik.
Jika ketiganya dijadikan prinsip kehidupan, maka dapat dimaknai sebagai: hidup harus berada di jalan yang benar, dijalani secara wajar dan seimbang, sehingga melahirkan kehidupan yang sehat, segar, tenteram, dan bermanfaat.
Filosofi tersebut menarik untuk dikaji dalam perspektif Islam. Sebab, meskipun ungkapan “Bener, Wajar lan Seger” bukan istilah yang bersumber langsung dari Al-Qur'an atau hadis, nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya memiliki titik temu dengan ajaran Islam tentang kebenaran, keadilan, keseimbangan, kesehatan, kemaslahatan, dan akhlak.
Dengan demikian, filosofi lokal dapat menjadi sarana refleksi selama tidak bertentangan dengan akidah dan syariat. Bahkan, nilai-nilai kearifan lokal dapat menjadi pintu masuk untuk menerapkan ajaran Islam secara kontekstual dalam kehidupan sehari-hari.
1. Makna Filosofis “Bener”
Kata bener berarti benar, lurus, tepat, jujur, dan sesuai dengan prinsip kebaikan. Dalam kehidupan, bener bukan hanya berarti merasa dirinya benar, tetapi juga kesediaan untuk mencari kebenaran dan memperbaiki diri ketika ternyata melakukan kesalahan.
Orang yang memegang prinsip bener akan berusaha jujur dalam perkataan, amanah dalam pekerjaan, adil dalam mengambil keputusan, serta bertanggung jawab terhadap tindakan yang dilakukan.
Dalam Islam, prinsip kebenaran mempunyai kedudukan yang sangat fundamental. Allah Swt. memerintahkan manusia untuk menegakkan keadilan sekalipun terhadap orang yang tidak disukai. QS. Al-Ma'idah ayat 8 menegaskan bahwa kebencian kepada suatu kelompok tidak boleh menyebabkan seseorang berlaku tidak adil. Bahkan, berlaku adil disebut lebih dekat kepada takwa.
Ini memberikan pelajaran penting: kebenaran tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan pribadi.
Dalam kehidupan keluarga, misalnya, seorang ayah atau ibu tidak seharusnya membela anaknya secara membabi buta ketika anak tersebut melakukan kesalahan. Dalam pekerjaan, seorang pemimpin tidak boleh memberikan penghargaan hanya karena kedekatan pribadi. Dalam perdagangan, seorang pedagang tidak boleh menyembunyikan cacat barang demi mendapatkan keuntungan.
Bener berarti berani berkata benar, meskipun terkadang kebenaran itu tidak menguntungkan diri sendiri.
Allah juga berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 70–71 agar orang beriman bertakwa dan mengucapkan perkataan yang benar (qaulan sadida). Artinya, kebenaran harus tampak dalam ucapan sekaligus tindakan.
Karena itu, bener dapat diterjemahkan dalam kehidupan modern sebagai integritas: antara hati, ucapan, dan perbuatan terdapat kesesuaian.
2. “Bener” Bukan Berarti Merasa Paling Benar
Ada satu jebakan dalam memahami kebenaran: seseorang dapat mengetahui sesuatu yang benar, tetapi kemudian menjadi sombong karena merasa dirinya paling benar.
Islam tidak mengajarkan manusia untuk menjadi pribadi yang merasa lebih tinggi daripada orang lain. QS. Al-Hujurat ayat 13 mengingatkan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Kemuliaan manusia di sisi Allah ditentukan oleh ketakwaannya, bukan sekadar identitas sosial atau kebanggaan kelompok.
Maka, bener harus disertai andhap asor, kerendahan hati.
Orang yang benar tidak harus kasar. Orang yang berilmu tidak harus merendahkan. Orang yang memiliki jabatan tidak harus menindas. Orang yang kaya tidak harus memandang rendah orang miskin.
Kebenaran yang disampaikan dengan akhlak akan lebih mudah diterima daripada kebenaran yang disampaikan dengan kesombongan.
3. Makna Filosofis “Wajar”
Kata wajar mengandung pengertian sesuai keadaan, proporsional, tidak dibuat-buat, tidak berlebihan, dan mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya.
Dalam kehidupan modern, prinsip wajar menjadi semakin penting karena manusia mudah terjebak pada gaya hidup berlebihan.
Berlebihan dalam mengejar kekayaan dapat membuat seseorang kehilangan waktu bersama keluarga. Berlebihan dalam bekerja dapat mengabaikan kesehatan. Berlebihan dalam menggunakan media sosial dapat mengurangi kualitas interaksi nyata. Berlebihan dalam mengejar kesenangan dapat menyebabkan seseorang kehilangan arah kehidupan.
Islam mengajarkan prinsip keseimbangan. Dalam QS. Al-A'raf ayat 31, manusia diperintahkan untuk makan dan minum, tetapi tidak berlebih-lebihan. Prinsip ini menunjukkan bahwa Islam tidak melarang manusia menikmati kehidupan, tetapi mengajarkan pengendalian diri.
Dengan demikian, wajar bukan berarti hidup pasif atau tidak memiliki cita-cita. Wajar berarti mampu mengejar cita-cita tanpa kehilangan keseimbangan hidup.
Bekerja keras itu baik, tetapi tetap membutuhkan istirahat.
Mencari kekayaan itu boleh, tetapi jangan sampai kekayaan menguasai hati.
Menikmati makanan itu boleh, tetapi jangan sampai merusak kesehatan.
Menggunakan teknologi itu bermanfaat, tetapi jangan sampai manusia diperbudak oleh teknologi.
Inilah esensi wajar: menempatkan segala sesuatu secara proporsional.
4. Wajar sebagai Jalan Tengah
Dalam konsep Islam, kehidupan yang baik bukanlah kehidupan yang ekstrem. Rasulullah Muhammad Saw. memberikan teladan keseimbangan dalam beribadah, bekerja, bermasyarakat, berkeluarga, dan memenuhi kebutuhan tubuh.
Manusia memiliki kebutuhan jasmani sekaligus rohani. Karena itu, kehidupan yang sehat adalah kehidupan yang memberikan perhatian kepada keduanya.
Kita membutuhkan ibadah untuk menjaga hubungan dengan Allah, tetapi juga membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kita membutuhkan kesunyian untuk melakukan introspeksi, tetapi juga membutuhkan silaturahmi. Kita membutuhkan kesungguhan, tetapi juga membutuhkan istirahat.
Prinsip wajar mengajarkan bahwa kualitas hidup bukan hanya ditentukan oleh seberapa banyak yang dimiliki, tetapi seberapa baik seseorang mengelola apa yang dimilikinya.
Dalam konteks ekonomi, misalnya, wajar berarti membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Seseorang boleh memiliki rumah yang baik, kendaraan yang nyaman, atau usaha yang berkembang. Namun, jangan sampai mengejar status sosial membuat seseorang berutang secara berlebihan atau mengorbankan ketenangan hidup.
5. Makna Filosofis “Seger”
Kata seger secara harfiah berkaitan dengan keadaan segar, sehat, bugar, dan penuh energi. Namun secara filosofis, seger dapat diperluas menjadi kondisi kehidupan yang sehat secara fisik, mental, sosial, dan spiritual.
Tubuh yang sehat membantu manusia menjalankan aktivitas dengan baik. Pikiran yang sehat membantu seseorang mengambil keputusan secara rasional. Hati yang sehat membuat seseorang mampu bersyukur, memaafkan, dan berbuat baik.
Dalam Islam, kesehatan merupakan nikmat yang sangat berharga. Rasulullah Saw. bersabda bahwa terdapat dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang (HR. Bukhari).
Pesan tersebut sangat relevan. Banyak orang baru menyadari pentingnya kesehatan setelah sakit. Banyak orang baru menghargai waktu setelah kehilangan kesempatan.
Karena itu, seger dapat dimaknai sebagai ajakan untuk merawat kehidupan sebelum datang penyesalan.
6. “Seger” Tidak Hanya Tubuh, tetapi Juga Jiwa
Kesehatan manusia tidak berhenti pada tubuh.
Seseorang dapat memiliki tubuh sehat tetapi pikirannya dipenuhi kebencian. Ia mungkin memiliki kekayaan, tetapi hidup dalam kecemasan. Ia mungkin memiliki jabatan tinggi, tetapi kehilangan kedamaian.
Karena itu, seger harus mencakup kesegaran batin.
Hati perlu “disegarkan” dengan dzikir, doa, membaca Al-Qur'an, silaturahmi, bersyukur, memaafkan, dan memperbanyak amal saleh.
Allah Swt. berfirman dalam QS. Ar-Ra'd ayat 28 bahwa hati menjadi tenteram dengan mengingat Allah.
Dengan demikian, kehidupan yang seger adalah kehidupan yang memiliki energi positif, optimisme, kesehatan jasmani, ketenangan jiwa, dan hubungan sosial yang baik.
7. Hubungan “Bener, Wajar lan Seger”
Ketiga kata tersebut sebenarnya merupakan satu rangkaian yang saling melengkapi.
Bener memberikan arah.
Wajar memberikan keseimbangan.
Seger memberikan kualitas kehidupan.
Jika seseorang hanya mengejar seger tanpa bener, ia mungkin hidup nyaman tetapi kehilangan nilai moral.
Jika seseorang mengejar bener tanpa wajar, ia dapat menjadi kaku, mudah menghakimi, atau mengabaikan kebutuhan manusiawi.
Jika seseorang mengejar wajar tanpa bener, keseimbangan dapat berubah menjadi kompromi terhadap prinsip.
Maka ketiganya harus berjalan bersama:
Bener dalam prinsip, wajar dalam menjalani, dan seger dalam menikmati serta menjaga kehidupan.
Inilah formula sederhana untuk membangun kehidupan yang lebih harmonis.
8. Penerapan dalam Kehidupan Keluarga
Dalam keluarga, bener berarti membangun rumah tangga berdasarkan kejujuran, tanggung jawab, kasih sayang, dan amanah.
Wajar berarti tidak menuntut pasangan secara berlebihan, tidak memaksakan kehendak, dan memahami bahwa setiap anggota keluarga memiliki karakter serta kemampuan yang berbeda.
Seger berarti menciptakan suasana rumah yang sehat dan menyenangkan: komunikasi yang baik, makan bersama, olahraga, rekreasi sederhana, saling membantu, dan memperbanyak ibadah bersama.
Keluarga tidak harus selalu memiliki kemewahan untuk bahagia. Yang lebih penting adalah adanya rasa aman, kasih sayang, penghargaan, dan keberkahan.
9. Penerapan dalam Pekerjaan dan Bisnis
Dalam dunia usaha, bener berarti jujur terhadap kualitas barang, harga, timbangan, promosi, dan transaksi.
Wajar berarti mengambil keuntungan secara pantas serta tidak mengeksploitasi konsumen atau pekerja.
Seger berarti membangun lingkungan kerja yang sehat, produktif, manusiawi, dan saling menghargai.
Rasulullah Saw. dikenal sebagai pribadi yang terpercaya. Kejujuran dan amanah menjadi fondasi penting dalam muamalah.
Prinsip ini sangat relevan bagi pelaku UMKM maupun perusahaan modern. Keuntungan memang penting, tetapi kepercayaan adalah modal jangka panjang yang jauh lebih berharga.
10. Penerapan dalam Bermasyarakat
Dalam kehidupan sosial, bener berarti menjunjung keadilan.
Wajar berarti mampu menghargai perbedaan dan tidak memaksakan kehendak.
Seger berarti menciptakan lingkungan sosial yang damai, sehat, produktif, dan saling membantu.
Islam mengajarkan agar hubungan sosial dibangun atas dasar persaudaraan dan kemaslahatan. Bahkan ketika terjadi konflik, Al-Qur'an memerintahkan penyelesaian secara adil. QS. Al-Hujurat ayat 9 menekankan pentingnya mendamaikan pihak yang bertikai dengan keadilan.
Dalam konteks ini, wajar berarti tidak memperbesar persoalan. Tidak setiap perbedaan harus menjadi permusuhan.
11. Tidak Merugikan Diri Sendiri dan Orang Lain
Salah satu prinsip penting dalam Islam adalah larangan menimbulkan bahaya. Kaidah yang masyhur dari hadis Nabi adalah “la dharar wa la dhirar”, yang bermakna tidak boleh menimbulkan bahaya bagi diri sendiri maupun orang lain. Hadis ini diriwayatkan dalam berbagai jalur, dan salah satu sumber yang membahasnya menilainya sebagai hadis hasan.
Prinsip tersebut sangat dekat dengan semangat wajar dan seger.
Merokok secara berlebihan, makan tanpa kendali, kurang tidur, bekerja tanpa istirahat, atau hidup dalam tekanan terus-menerus merupakan contoh pola hidup yang tidak seimbang.
Begitu pula dalam kehidupan sosial: jangan sampai kesenangan pribadi menghasilkan penderitaan bagi orang lain.
Karena itu, kehidupan yang baik harus mempertimbangkan kemaslahatan diri sekaligus kemaslahatan orang lain.
12. Menjadikan “Bener, Wajar lan Seger” sebagai Pedoman Harian
Filosofi ini dapat dijadikan evaluasi sederhana setiap hari melalui tiga pertanyaan:
Pertama, apakah yang saya lakukan sudah bener?
Apakah pekerjaan saya jujur? Apakah ucapan saya benar? Apakah keputusan saya adil?
Kedua, apakah saya sudah wajar?
Apakah saya terlalu berlebihan dalam bekerja, makan, berbelanja, menggunakan teknologi, mengejar popularitas, atau mengejar kekuasaan?
Ketiga, apakah kehidupan saya sudah seger?
Apakah tubuh saya sehat? Apakah pikiran saya tenang? Apakah hubungan saya dengan keluarga baik? Apakah hati saya dekat dengan Allah?
Jika ketiga pertanyaan tersebut dijawab dengan jujur, seseorang akan lebih mudah melakukan muhasabah.
Filosofi Jawa “Bener, Wajar lan Seger” dapat dipahami sebagai sebuah prinsip sederhana namun mendalam untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
Bener mengajarkan agar manusia mempunyai prinsip kebenaran, kejujuran, amanah, dan keadilan.
Wajar mengajarkan keseimbangan, proporsionalitas, kesederhanaan, serta menjauhi sikap berlebihan.
Seger mengajarkan pentingnya menjaga kesehatan jasmani, ketenangan jiwa, hubungan sosial, dan kesegaran spiritual.
Ketiganya memiliki titik temu yang kuat dengan nilai-nilai Islam. Al-Qur'an mengajarkan keadilan, keseimbangan, ketakwaan, dan kemaslahatan. Rasulullah Saw. memberikan teladan tentang kejujuran, kesederhanaan, kesehatan, kasih sayang, serta larangan menimbulkan bahaya.
Maka, filosofi tersebut dapat dirumuskan menjadi sebuah pedoman hidup:
“Bener lakune, wajar uripe, seger badan lan atine.”
Benar jalannya, wajar kehidupannya, sehat badan dan hatinya.
Pada akhirnya, kehidupan yang baik bukanlah kehidupan yang bebas dari masalah. Kehidupan yang baik adalah kehidupan ketika manusia tetap berada di jalan yang benar ketika menghadapi masalah, tetap proporsional ketika memperoleh kenikmatan, dan tetap menjaga kesehatan serta ketenangan hati dalam menjalani perjalanan hidup.
Dengan bener, manusia memiliki arah.
Dengan wajar, manusia memiliki keseimbangan.
Dengan seger, manusia memiliki energi untuk terus berkarya.
Dan apabila ketiganya dilandasi iman dan takwa kepada Allah Swt., maka kearifan lokal tersebut dapat menjadi bagian dari ikhtiar membangun kehidupan yang lebih sehat, harmonis, bermartabat, bahagia, dan penuh keberkahan.
By Suprapto BZ






Posting Komentar