Kebudayaan Jawa memiliki banyak ungkapan filosofis yang mengandung ajaran tentang bagaimana manusia seharusnya menjalani kehidupan. Salah satunya adalah “Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti.” Ungkapan ini mengandung pesan mendalam bahwa kekuatan, keberanian, kekuasaan, kesombongan, dan angkara murka pada akhirnya dapat ditundukkan oleh kebaikan, kelembutan, kesabaran, kebijaksanaan, doa, dan ketulusan hati.
Ungkapan tersebut dikenal sebagai salah satu falsafah Jawa yang mengajarkan bahwa kekerasan tidak selalu harus dilawan dengan kekerasan. Kajian mengenai ungkapan ini juga menunjukkan makna bahwa sifat pemarah dan angkara dapat dikalahkan melalui kelembutan dan kesabaran.
Jika dikaji melalui perspektif Islam, terdapat keselarasan nilai yang sangat kuat. Al-Qur'an mengajarkan agar keburukan dibalas dengan cara yang lebih baik, sedangkan Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukanlah kemampuan mengalahkan orang lain, tetapi kemampuan mengendalikan diri ketika marah.
Dengan demikian, falsafah Jawa ini dapat dijadikan bahan refleksi untuk membangun kehidupan yang lebih damai, produktif, beretika, dan bermanfaat bagi sesama.
1. Memahami Makna “Sura Dira Jayaningrat”
Secara sederhana, sura dira jayaningrat dapat dimaknai sebagai gambaran berbagai bentuk kekuatan duniawi: keberanian, kekuasaan, kejayaan, kedudukan, keperkasaan, bahkan sikap keras hati dan angkara murka.
Kekuatan pada dasarnya bukan sesuatu yang buruk. Keberanian dibutuhkan untuk memperjuangkan kebenaran. Kekuasaan diperlukan untuk mengatur kehidupan. Kejayaan dapat digunakan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.
Masalah muncul ketika kekuatan tersebut kehilangan kendali moral.
Orang yang memiliki jabatan tetapi sombong dapat menyakiti bawahannya. Orang yang memiliki kekayaan tetapi tamak dapat merugikan orang lain. Orang yang kuat secara fisik tetapi tidak mampu mengendalikan emosinya dapat menjadi sumber konflik. Bahkan orang yang merasa paling benar dapat memutus persaudaraan karena tidak mau menghargai perbedaan.
Karena itu, filosofi ini tidak sekadar berbicara tentang “mengalahkan orang kuat”, tetapi lebih dalam lagi: kekuatan tanpa pengendalian diri pada akhirnya akan kehilangan makna.
Islam juga memberikan prinsip serupa. Allah SWT berfirman:
“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik...”
(QS. Fussilat: 34)
Ayat tersebut bahkan melanjutkan bahwa sikap demikian dapat mengubah permusuhan menjadi kedekatan.
Artinya, manusia tidak dianjurkan menjadi lemah menghadapi keburukan, tetapi diajarkan memilih cara terbaik dan paling bermartabat untuk menghadapinya.
2. Makna “Lebur Dening Pangastuti”
Bagian kedua, “lebur dening pangastuti,” merupakan inti kebijaksanaan dari ungkapan tersebut.
“Lebur” berarti luluh, sirna, atau dapat ditundukkan. Sedangkan “pangastuti” berkaitan dengan pujian, penghormatan, doa, ketulusan, kebaikan, dan sikap luhur.
Dalam konteks kehidupan, maknanya dapat dipahami sebagai:
Kekerasan hati diluluhkan oleh kelembutan; kemarahan diredakan oleh kesabaran; kesombongan dikalahkan oleh kerendahan hati; kebencian dijawab dengan kebaikan; dan konflik diselesaikan melalui kebijaksanaan.
Ini bukan berarti setiap kejahatan harus dibiarkan. Kebaikan tidak identik dengan pasif. Seseorang tetap boleh menegakkan keadilan, memberikan batas yang tegas, melindungi dirinya, dan mencegah kezaliman. Namun, semua itu dilakukan tanpa kehilangan akhlak.
Al-Qur'an menegaskan bahwa kemampuan membalas keburukan dengan kebaikan merupakan kualitas yang membutuhkan kesabaran. QS. Fussilat ayat 34–35 menghubungkan prinsip tersebut dengan kesabaran dan menyebutnya sebagai suatu keutamaan yang besar.
Dengan demikian, pangastuti bukan kelemahan, melainkan kekuatan moral.
3. Keselarasan dengan Ajaran Islam
Menariknya, nilai yang terdapat dalam falsafah Jawa tersebut memiliki titik temu dengan banyak ajaran Islam.
Islam mengajarkan sabar, pemaaf, kasih sayang, pengendalian amarah, rendah hati, dan membalas keburukan dengan kebaikan.
Allah SWT berfirman dalam QS. Ali 'Imran ayat 134 tentang orang-orang bertakwa, di antaranya mereka yang menahan amarah dan memaafkan manusia.
Rasulullah SAW juga memberikan ukuran yang sangat jelas tentang kekuatan manusia. Dalam hadis sahih, beliau bersabda bahwa orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.
Pesan tersebut sangat relevan dengan “sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti”.
Orang yang mampu mengalahkan orang lain mungkin disebut kuat secara fisik. Namun orang yang mampu mengalahkan amarah, ego, dendam, dan kesombongan dalam dirinya memiliki kekuatan yang jauh lebih tinggi.
4. Penerapan dalam Kehidupan Keluarga
Keluarga merupakan tempat pertama untuk menerapkan filosofi tersebut.
Dalam rumah tangga, perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang wajar. Suami dan istri memiliki karakter berbeda. Orang tua dan anak memiliki cara berpikir yang berbeda. Saudara kandung pun dapat mengalami perselisihan.
Masalah kecil dapat menjadi besar ketika masing-masing ingin menang.
Prinsip “sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti” mengajarkan agar seseorang tidak selalu membalas suara keras dengan suara yang lebih keras.
Ketika pasangan marah, berusahalah tetap tenang. Ketika anak melakukan kesalahan, berikan nasihat dengan kasih sayang. Ketika terjadi perbedaan pendapat, jangan mempermalukan anggota keluarga.
Tujuannya bukan memenangkan pertengkaran, tetapi memenangkan hubungan.
Inilah bentuk nyata dari “pangastuti”: memilih kalimat yang menenangkan daripada ucapan yang menyakitkan.
5. Penerapan dalam Dunia Pendidikan
Dalam pendidikan, filosofi ini juga sangat relevan.
Guru tidak cukup hanya memiliki ilmu. Guru membutuhkan kesabaran, keteladanan, dan kemampuan memahami karakter peserta didik.
Seorang siswa yang melakukan kesalahan tidak selalu dapat diperbaiki dengan hukuman keras. Terkadang pendekatan yang lebih efektif adalah dialog, keteladanan, penghargaan, dan pendampingan.
Demikian pula kepala sekolah atau pemimpin pendidikan. Kekuasaan administratif hendaknya tidak digunakan untuk menekan, tetapi untuk membangun budaya kerja yang sehat.
Pemimpin yang bijaksana memahami bahwa orang akan lebih mudah mengikuti teladan daripada sekadar perintah.
Kekuatan kepemimpinan akhirnya bukan terletak pada seberapa keras seseorang dapat memerintah, tetapi seberapa besar ia mampu menggerakkan orang lain melalui keteladanan.
6. Penerapan dalam Perdagangan dan Dunia Usaha
Dalam perdagangan, filosofi ini dapat menjadi prinsip penting dalam membangun kepercayaan.
Persaingan bisnis terkadang menimbulkan konflik. Ada pelanggan yang kecewa, pesaing yang menyerang secara verbal, atau mitra yang tidak memenuhi janji.
Pengusaha yang emosional dapat membalas dengan kemarahan. Tetapi pengusaha yang matang akan mengambil jarak, memeriksa persoalan, kemudian memberikan penyelesaian terbaik.
Misalnya, pelanggan mengeluhkan kualitas produk. Jangan langsung menyalahkan pelanggan. Dengarkan keluhannya, periksa produk, berikan penjelasan yang jujur, dan jika memang terjadi kesalahan, lakukan perbaikan.
Sikap tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi dalam jangka panjang dapat menjadi modal besar berupa kepercayaan.
Dalam bisnis, keuntungan bukan hanya berasal dari transaksi hari ini. Keuntungan yang lebih besar dapat berasal dari pelanggan yang kembali, merekomendasikan produk kepada orang lain, dan membangun hubungan jangka panjang.
Maka, “pangastuti” dapat diterjemahkan ke dalam dunia usaha sebagai pelayanan yang santun, kejujuran, kualitas produk, tanggung jawab, dan penghormatan kepada pelanggan.
7. Penerapan dalam Kepemimpinan
Seorang pemimpin sering memiliki kekuasaan untuk memberikan perintah. Namun pemimpin yang besar tidak menggunakan kekuasaan semata-mata untuk membuat orang takut.
Ia membangun rasa hormat.
Ada perbedaan antara ditakuti dan dihormati.
Orang yang ditakuti mungkin akan patuh ketika pemimpin berada di hadapannya. Tetapi orang yang menghormati pemimpinnya akan tetap menjalankan tugas meskipun pemimpin tidak hadir.
Karena itu, kepemimpinan yang baik membutuhkan integritas, keadilan, ketegasan sekaligus kelembutan.
Ketika harus tegas, tegaslah. Ketika harus memaafkan, maafkanlah. Ketika harus mengingatkan, gunakan bahasa yang mendidik.
Kekuatan pemimpin justru terlihat ketika ia mampu menggunakan kekuasaan dengan penuh tanggung jawab.
8. Mengendalikan Amarah sebagai Bentuk Kekuatan
Salah satu penerapan paling penting adalah mengendalikan amarah.
Marah merupakan emosi manusiawi. Namun keputusan yang dibuat ketika marah sering kali menghasilkan penyesalan.
Rasulullah SAW secara tegas menghubungkan kekuatan dengan kemampuan mengendalikan diri saat marah.
Karena itu, ketika menghadapi provokasi, seseorang dapat menerapkan langkah sederhana:
berhenti – diam – tarik napas – berpikir – berdoa – kemudian bertindak.
Jangan langsung membalas pesan ketika emosi sedang tinggi. Jangan mengambil keputusan penting ketika sedang marah. Jangan menyebarkan perkataan orang lain sebelum mengetahui kebenarannya.
Ketenangan memberikan ruang bagi akal untuk bekerja.
9. Bukan Berarti Membiarkan Kezaliman
Ada satu hal penting yang perlu ditekankan.
“Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti” bukan ajaran untuk membiarkan kejahatan.
Kelembutan harus ditempatkan bersama keadilan.
Jika seseorang menjadi korban penindasan, ia memiliki hak untuk mencari perlindungan dan keadilan. Jika terjadi tindak kejahatan, penyelesaiannya harus dilakukan melalui mekanisme yang benar. Jika ada perilaku yang merugikan orang banyak, harus ada tindakan korektif.
Perbedaannya adalah cara melawan keburukan.
Islam tidak mengajarkan bahwa membalas keburukan berarti bebas melakukan keburukan yang sama. Al-Qur'an justru mengarahkan manusia untuk memilih cara yang lebih baik, dengan kesabaran sebagai salah satu syaratnya.
Jadi, kelembutan bukan berarti kehilangan ketegasan. Sebaliknya, ketegasan yang dibangun di atas akhlak jauh lebih kuat daripada kemarahan.
10. Menjadi Manusia yang “Menang” atas Dirinya Sendiri
Pada akhirnya, filosofi ini membawa kita pada persoalan yang paling penting: mengalahkan diri sendiri.
Manusia sering sibuk mengalahkan orang lain, tetapi lupa mengalahkan kesombongannya sendiri.
Kita ingin menang dalam perdebatan, tetapi belum tentu menang melawan ego.
Kita ingin dihormati, tetapi belum tentu mampu menghormati.
Kita ingin orang lain meminta maaf, tetapi belum tentu mampu meminta maaf.
Kita ingin diperlakukan dengan baik, tetapi belum tentu selalu berbuat baik.
Karena itu, kemenangan sejati adalah ketika seseorang mampu mengendalikan hawa nafsunya, menjaga lisannya, menahan amarahnya, memperbaiki kesalahannya, dan tetap berbuat baik meskipun menghadapi perlakuan yang tidak menyenangkan.
Inilah titik temu yang indah antara kebijaksanaan Jawa dan nilai-nilai Islam.
11. Langkah Praktis Menerapkannya Setiap Hari
Filosofi ini dapat diterapkan melalui kebiasaan sederhana:
Lebih banyak mendengar daripada bereaksi.
Berpikir sebelum berbicara.
Tidak membalas hinaan dengan hinaan.
Mengendalikan emosi ketika menghadapi provokasi.
Memaafkan tanpa harus mengulangi kesalahan yang sama.
Berani meminta maaf ketika bersalah.
Menegakkan keadilan tanpa kebencian.
Mengutamakan dialog dalam menyelesaikan konflik.
Menggunakan kekuasaan untuk melayani, bukan menindas.
Membalas keburukan dengan kebaikan yang bijaksana.
Jika kebiasaan tersebut dilakukan secara konsisten, kualitas hubungan dalam keluarga, pekerjaan, organisasi, perdagangan, dan masyarakat akan meningkat.
“Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti” merupakan ungkapan yang mengandung pelajaran penting tentang hakikat kekuatan manusia. Keberanian, kekuasaan, kedudukan, kekayaan, dan kejayaan tidak akan memiliki nilai yang tinggi apabila tidak disertai akhlak.
Kekuatan yang sebenarnya adalah kemampuan mengendalikan diri.
Kekuasaan yang sebenarnya adalah kemampuan memberikan manfaat.
Keberanian yang sebenarnya adalah keberanian memperjuangkan kebenaran tanpa kehilangan kasih sayang.
Dan kemenangan yang sebenarnya adalah kemenangan atas ego, amarah, kesombongan, dan hawa nafsu diri sendiri.
Nilai tersebut memiliki keselarasan yang kuat dengan ajaran Al-Qur'an tentang membalas keburukan dengan sesuatu yang lebih baik. QS. Fussilat ayat 34 bahkan menggambarkan kemungkinan perubahan permusuhan menjadi persahabatan melalui pendekatan kebaikan, sementara ayat berikutnya menegaskan pentingnya kesabaran.
Dengan demikian, filosofi Jawa tersebut dapat menjadi jembatan refleksi budaya dan spiritual: menghadapi kerasnya kehidupan tidak harus dengan menjadi keras; menghadapi kemarahan tidak harus dengan kemarahan; dan menghadapi keburukan tidak harus dengan keburukan.
Sebaliknya, kita dapat memilih jalan sabar, bijaksana, tegas, santun, adil, dan penuh kasih sayang.
Itulah semangat pangastuti: menjadikan kebaikan sebagai kekuatan untuk meluluhkan keburukan, sekaligus menjadikan kehidupan lebih damai, bermartabat, produktif, dan bermanfaat bagi sesama.
By Suprapto BZ





Posting Komentar