Kebudayaan Jawa memiliki banyak filosofi kehidupan yang mengandung nilai-nilai luhur sebagai pedoman manusia dalam menjalani kehidupan. Filosofi tersebut tidak sekadar menjadi ungkapan tradisional, tetapi juga mengandung ajaran moral, etika, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial. Salah satu filosofi Jawa yang memiliki makna sangat mendalam adalah Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta Dur Hangkara.
Ungkapan ini mengandung pesan tentang kewajiban manusia untuk memperindah, menjaga, dan memelihara kehidupan di dunia sekaligus menghancurkan sifat-sifat buruk yang merusak kehidupan. Manusia tidak seharusnya hanya mengejar kepentingan pribadi, kekayaan, kedudukan, dan kesenangan duniawi, tetapi juga harus memberikan manfaat bagi sesama manusia, lingkungan, masyarakat, dan alam semesta.
Secara sederhana, Memayu Hayuning Bawana berarti memperindah atau menjaga keselamatan dan keharmonisan dunia. Sementara itu, Ambrasta Dur Hangkara berarti menghancurkan sifat angkara murka, yaitu kesombongan, keserakahan, kebencian, kezaliman, dan berbagai perilaku buruk yang merusak kehidupan.
Apabila direnungkan lebih dalam, filosofi ini memiliki kesesuaian nilai dengan ajaran Islam. Al-Qur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW mengajarkan manusia agar menjadi pribadi yang membawa rahmat, menjaga keseimbangan kehidupan, berbuat kebaikan, mencegah kemungkaran, serta menjauhi kesombongan dan kerusakan di muka bumi.
Dengan demikian, filosofi Jawa tersebut dapat dijadikan landasan untuk membangun kehidupan yang lebih baik, baik secara pribadi, keluarga, masyarakat, maupun dalam hubungan manusia dengan alam dan Allah SWT.
1. Makna Filosofi Memayu Hayuning Bawana
Kata Memayu memiliki makna memperindah, memperbaiki, atau menjaga agar sesuatu menjadi lebih baik. Hayuning berkaitan dengan keindahan, keselamatan, kesejahteraan, dan keharmonisan. Sementara itu, Bawana berarti dunia atau alam kehidupan.
Jika ketiga kata tersebut digabungkan, Memayu Hayuning Bawana mengandung makna usaha manusia untuk menciptakan kehidupan dunia yang indah, aman, tenteram, damai, sejahtera, dan harmonis.
Filosofi ini mengajarkan bahwa manusia mempunyai tanggung jawab moral untuk tidak sekadar menikmati kehidupan, tetapi juga ikut memperbaiki keadaan di sekitarnya.
Ada beberapa dimensi penting dalam penerapannya.
Pertama, memperbaiki kualitas diri.
Kehidupan yang baik harus dimulai dari pribadi yang baik. Manusia perlu memperbaiki akhlak, meningkatkan pengetahuan, mengendalikan emosi, menjaga kejujuran, dan membangun tanggung jawab.
Seseorang yang memiliki hati bersih, pikiran jernih, dan perilaku baik akan lebih mudah memberikan pengaruh positif kepada orang lain.
Kedua, membangun keharmonisan keluarga.
Keluarga merupakan lingkungan pertama tempat manusia belajar tentang kasih sayang, tanggung jawab, kesabaran, dan kepedulian. Memayu Hayuning Bawana dapat diwujudkan melalui keluarga yang saling menghormati, menyayangi, membantu, dan menjaga hubungan silaturahmi.
Ketiga, memberikan manfaat kepada masyarakat.
Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Oleh karena itu, setiap orang mempunyai tanggung jawab untuk membantu menciptakan masyarakat yang aman, adil, dan sejahtera.
Bentuknya dapat berupa kepedulian kepada orang miskin, membantu tetangga yang mengalami kesulitan, menjaga kerukunan, menghormati perbedaan, serta mengembangkan kegiatan sosial yang bermanfaat.
Keempat, menjaga kelestarian alam.
Alam merupakan tempat manusia menjalani kehidupan. Air, tanah, udara, tumbuhan, dan hewan merupakan bagian dari ekosistem yang harus dijaga keseimbangannya.
Memayu Hayuning Bawana berarti tidak mengeksploitasi alam secara berlebihan, tidak mencemari lingkungan, serta menggunakan sumber daya alam secara bijaksana.
Dalam perspektif Islam, tanggung jawab ini berkaitan dengan kedudukan manusia sebagai khalifah di muka bumi.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 30 bahwa Allah hendak menjadikan khalifah di bumi. Ayat ini memberikan pemahaman bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk mengelola kehidupan di bumi sesuai dengan ketentuan Allah.
Dengan demikian, menjaga kehidupan bukan sekadar kepentingan manusia, melainkan bagian dari amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
2. Makna Ambrasta Dur Hangkara: Menghancurkan Sifat Angkara Murka
Bagian kedua filosofi ini mengandung pesan yang tidak kalah penting. Ambrasta Dur Hangkara mengajarkan manusia untuk menghancurkan sifat angkara murka yang berada dalam dirinya maupun perilaku yang merusak kehidupan.
Angkara murka tidak selalu berbentuk kejahatan besar. Sifat tersebut dapat muncul dalam kehidupan sehari-hari melalui kesombongan, keserakahan, iri hati, dendam, kebohongan, ketidakadilan, dan keinginan untuk menguasai orang lain.
Ada beberapa sifat buruk yang perlu diperangi.
Pertama, kesombongan.
Kesombongan muncul ketika seseorang merasa dirinya lebih tinggi daripada orang lain karena kekayaan, jabatan, pendidikan, keturunan, atau kedudukan sosial.
Kesombongan dapat membuat seseorang kehilangan rasa hormat kepada orang lain dan sulit menerima nasihat.
Allah SWT berfirman dalam QS. Luqman ayat 18:
"Dan janganlah engkau memalingkan wajah dari manusia karena sombong dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh."
Ayat tersebut memberikan pelajaran bahwa manusia harus menjaga kerendahan hati dan tidak merendahkan orang lain.
Kedua, keserakahan.
Keserakahan merupakan keinginan untuk memperoleh sesuatu secara berlebihan tanpa mempertimbangkan hak orang lain.
Sifat ini dapat mendorong seseorang melakukan korupsi, penipuan, manipulasi, eksploitasi, dan berbagai tindakan yang merugikan masyarakat.
Islam mengajarkan keseimbangan dalam mencari rezeki. Manusia boleh bekerja keras, mengembangkan usaha, dan memperoleh kekayaan, tetapi harus melalui cara yang halal dan tidak merugikan orang lain.
Ketiga, iri hati dan kebencian.
Iri hati dapat merusak ketenteraman jiwa karena seseorang selalu membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain.
Kebencian yang dipelihara juga dapat menghancurkan hubungan persaudaraan dan menimbulkan permusuhan berkepanjangan.
Islam mengajarkan agar manusia membersihkan hati, memperbanyak rasa syukur, dan membangun persaudaraan.
Keempat, hawa nafsu yang tidak terkendali.
Manusia mempunyai kebutuhan dan keinginan, tetapi semuanya harus dikendalikan oleh akal sehat, hati nurani, dan tuntunan agama.
Ketika hawa nafsu menguasai kehidupan, manusia dapat melakukan sesuatu tanpa mempertimbangkan akibatnya.
Oleh karena itu, perjuangan menghancurkan angkara murka sebenarnya merupakan perjuangan melawan kelemahan diri sendiri.
3. Hubungan Filosofi Jawa dengan Ajaran Al-Qur'an
Apabila kedua bagian filosofi tersebut dikaji melalui Al-Qur'an, terdapat beberapa kesesuaian nilai yang sangat mendasar.
A. Manusia diperintahkan berbuat kebaikan
Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nahl ayat 90:
"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang melakukan perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan."
Ayat ini mengandung tiga prinsip penting, yaitu keadilan, kebajikan, dan kepedulian sosial.
Ketiganya merupakan dasar dalam membangun kehidupan yang lebih baik.
Memayu Hayuning Bawana dapat diwujudkan melalui perbuatan baik yang memberikan manfaat kepada manusia. Sebaliknya, Ambrasta Dur Hangkara dapat diwujudkan dengan meninggalkan perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan.
B. Manusia dilarang membuat kerusakan di bumi
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-A'raf ayat 56:
"Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik."
Ayat ini mengingatkan bahwa manusia tidak boleh merusak kehidupan dan lingkungan.
Kerusakan dapat berupa pencemaran alam, penebangan hutan secara liar, pemborosan sumber daya, ketidakadilan sosial, konflik, serta tindakan yang menghilangkan hak-hak orang lain.
Oleh sebab itu, menjaga alam dan memperbaiki kehidupan masyarakat merupakan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai hamba Allah.
C. Menjadi manusia yang membawa rahmat
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Anbiya ayat 107:
"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam."
Ayat ini menjelaskan bahwa ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW mengandung rahmat bagi seluruh alam.
Umat Islam hendaknya meneladani sifat kasih sayang Rasulullah melalui perilaku yang santun, adil, peduli, dan tidak menyakiti orang lain.
Dengan demikian, keberadaan seorang muslim seharusnya membawa kebaikan bagi keluarga, tetangga, masyarakat, bahkan lingkungan alam.
D. Mengubah keadaan dimulai dari diri sendiri
Allah SWT berfirman dalam QS. Ar-Ra'd ayat 11:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri."
Ayat ini memberikan prinsip penting bahwa perubahan kehidupan membutuhkan kesungguhan manusia untuk memperbaiki dirinya.
Tidak cukup hanya mengharapkan masyarakat menjadi baik, pemerintah menjadi adil, dan lingkungan menjadi tertib apabila setiap individu tidak bersedia memperbaiki perilakunya.
Perubahan besar harus dimulai dari perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten.
4. Kajian Filosofi Berdasarkan Hadits Nabi Muhammad SAW
Selain Al-Qur'an, terdapat sejumlah Hadits Nabi Muhammad SAW yang memberikan landasan kuat bagi penerapan filosofi Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta Dur Hangkara.
A. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain
Rasulullah SAW bersabda:
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."
(HR. Ath-Thabrani, dalam Al-Mu'jam Al-Ausath).
Hadits ini mengajarkan bahwa kemuliaan manusia tidak hanya diukur dari kekayaan, jabatan, dan kedudukan, tetapi juga dari manfaat yang diberikan kepada orang lain.
Seseorang yang memiliki ilmu hendaknya mengajarkan ilmunya. Orang yang memiliki harta hendaknya membantu sesama. Orang yang memiliki tenaga hendaknya menggunakan kemampuannya untuk kegiatan yang bermanfaat.
Inilah salah satu bentuk nyata Memayu Hayuning Bawana.
B. Menghilangkan sifat sombong
Rasulullah SAW bersabda:
"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi."
(HR. Muslim).
Hadits ini mengingatkan bahwa kesombongan merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya.
Manusia harus menyadari bahwa seluruh kelebihan yang dimiliki merupakan karunia Allah SWT. Kekayaan, kesehatan, kecerdasan, dan kedudukan tidak seharusnya menjadikan seseorang merasa lebih mulia daripada orang lain.
Menghilangkan kesombongan merupakan bagian penting dari Ambrasta Dur Hangkara.
C. Menjaga keseimbangan dan tidak membahayakan orang lain
Rasulullah SAW bersabda:
"Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain."
(HR. Ibnu Majah).
Hadits ini dikenal dengan prinsip la dharar wa la dhirar.
Prinsip tersebut sangat relevan dengan kehidupan sosial dan lingkungan. Manusia tidak boleh mencari keuntungan dengan cara yang menyebabkan kerugian bagi orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip ini dapat diterapkan dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak melakukan penipuan, tidak menyebarkan fitnah, tidak mengganggu ketenteraman masyarakat, serta tidak melakukan tindakan yang membahayakan kesehatan orang lain.
D. Mengendalikan amarah
Rasulullah SAW pernah memberikan nasihat:
"Jangan marah."
(HR. Bukhari).
Ketika seseorang meminta nasihat kepada Rasulullah SAW, beliau mengulangi pesan tersebut beberapa kali.
Hadits ini bukan berarti manusia tidak boleh memiliki emosi, tetapi mengajarkan agar manusia tidak membiarkan amarah menguasai pikiran dan perilakunya.
Orang yang mampu mengendalikan amarah akan lebih mudah menyelesaikan persoalan dengan bijaksana.
Mengendalikan amarah merupakan salah satu cara menghancurkan angkara murka dalam diri.
5. Penerapan Filosofi dalam Kehidupan Sehari-hari
Filosofi Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta Dur Hangkara tidak seharusnya berhenti sebagai pengetahuan atau ungkapan budaya. Filosofi tersebut perlu diwujudkan dalam tindakan nyata.
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan.
Pertama, membangun kesadaran spiritual.
Manusia perlu menyadari bahwa kehidupan merupakan amanah dari Allah SWT. Setiap tindakan harus dilandasi niat yang baik, kejujuran, dan tanggung jawab.
Memperbanyak ibadah, membaca Al-Qur'an, berzikir, berdoa, dan melakukan muhasabah dapat membantu membersihkan hati.
Kedua, memperbaiki akhlak dan karakter.
Membiasakan diri bersikap jujur, rendah hati, sabar, disiplin, bertanggung jawab, dan menghormati orang lain.
Tidak mudah menyalahkan orang lain, tidak menyebarkan keburukan, serta berani mengakui kesalahan merupakan bagian dari perbaikan karakter.
Ketiga, membangun keluarga yang harmonis.
Keluarga harus menjadi tempat tumbuhnya kasih sayang dan ketenteraman.
Menghormati pasangan, menyayangi anak, memperhatikan orang tua, dan menjaga silaturahmi merupakan bentuk nyata memperindah kehidupan.
Keempat, meningkatkan kepedulian sosial.
Membantu tetangga, menyantuni anak yatim, memperhatikan kaum dhuafa, menjenguk orang sakit, dan ikut kegiatan kemasyarakatan merupakan bentuk kepedulian yang dapat memperkuat persaudaraan.
Kelima, menjaga lingkungan hidup.
Menanam pohon, merawat tanaman, menghemat air, mengurangi sampah plastik, menjaga kebersihan, dan memanfaatkan lahan secara produktif merupakan bagian dari tanggung jawab manusia terhadap alam.
Keenam, mengembangkan keadilan dan kejujuran.
Dalam pekerjaan, usaha, organisasi, maupun kehidupan bermasyarakat, setiap orang harus menjunjung tinggi keadilan.
Tidak mengambil hak orang lain, tidak menyalahgunakan jabatan, tidak melakukan korupsi, dan tidak memanfaatkan kelemahan orang lain merupakan wujud nyata memerangi angkara murka.
Ketujuh, membiasakan introspeksi dan evaluasi diri.
Setiap manusia perlu mengevaluasi kehidupannya secara berkala.
Apakah selama ini sudah memberikan manfaat? Apakah masih sering menyakiti orang lain? Apakah terlalu mengejar kepentingan pribadi? Apakah sudah menjalankan kewajiban kepada Allah dan sesama manusia?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi bahan muhasabah untuk memperbaiki kehidupan.
6. Mengembangkan Kehidupan yang Seimbang antara Hablumminallah dan Hablumminannas
Salah satu pesan penting dari filosofi ini adalah perlunya keseimbangan hubungan manusia dengan Allah SWT dan hubungan manusia dengan sesama.
Dalam ajaran Islam, kedua hubungan tersebut tidak dapat dipisahkan.
Hablumminallah merupakan hubungan manusia dengan Allah melalui keimanan, ibadah, ketakwaan, doa, dan ketaatan kepada perintah-Nya.
Sementara itu, hablumminannas merupakan hubungan manusia dengan sesama melalui kasih sayang, kejujuran, keadilan, kepedulian, dan tanggung jawab sosial.
Seseorang tidak cukup hanya rajin beribadah apabila perilakunya masih merugikan orang lain. Sebaliknya, seseorang juga perlu menjaga hubungan dengan Allah sebagai landasan moral dan spiritual dalam melakukan kebaikan.
Keduanya harus berjalan seimbang.
Dalam konteks ini, Memayu Hayuning Bawana merupakan gambaran kehidupan yang membawa kebaikan bagi sesama dan alam, sedangkan Ambrasta Dur Hangkara merupakan upaya membersihkan diri dari sifat-sifat yang menghalangi manusia untuk mencapai kehidupan yang diridai Allah.
7. Membangun Peradaban yang Lebih Baik
Apabila filosofi ini diterapkan secara konsisten, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh keluarga, masyarakat, dan bangsa.
Masyarakat yang mengutamakan kebaikan akan lebih mudah membangun kerukunan. Masyarakat yang menjunjung kejujuran akan memiliki kepercayaan sosial yang lebih kuat. Masyarakat yang menghilangkan keserakahan dan kesombongan akan lebih mudah menciptakan keadilan.
Demikian pula, masyarakat yang menjaga lingkungan akan mewariskan kehidupan yang lebih baik kepada generasi berikutnya.
Peradaban yang baik bukan hanya ditandai oleh kemajuan teknologi, pembangunan gedung, pertumbuhan ekonomi, dan kekayaan material. Peradaban juga harus dibangun dengan akhlak, ilmu pengetahuan, keadilan, kepedulian sosial, dan kesadaran spiritual.
Kemajuan tanpa moral dapat melahirkan keserakahan. Kekuasaan tanpa keadilan dapat melahirkan penindasan. Kekayaan tanpa kepedulian dapat menimbulkan kesenjangan. Ilmu tanpa akhlak dapat disalahgunakan.
Oleh karena itu, membangun peradaban yang lebih baik harus dimulai dengan membangun manusia yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan, keimanan, akhlak, dan tanggung jawab.
Filosofi Jawa Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta Dur Hangkara mengandung ajaran kehidupan yang sangat mendalam dan relevan sepanjang zaman.
Memayu Hayuning Bawana mengajarkan manusia untuk memperindah, menjaga, dan memperbaiki kehidupan melalui perbuatan baik, kepedulian sosial, keharmonisan keluarga, keadilan, serta pelestarian alam.
Sementara itu, Ambrasta Dur Hangkara mengajarkan manusia untuk menghancurkan sifat-sifat buruk yang merusak kehidupan, seperti kesombongan, keserakahan, iri hati, kebencian, kemarahan, dan ketidakadilan.
Apabila dikaji berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW, filosofi tersebut memiliki kesesuaian nilai dengan ajaran Islam tentang amar makruf nahi mungkar, menjaga amanah sebagai khalifah di bumi, menghindari kerusakan, mengendalikan hawa nafsu, dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama.
Pada akhirnya, kehidupan yang lebih baik tidak cukup hanya dibangun dengan keinginan dan harapan. Kehidupan yang baik harus diwujudkan melalui kesungguhan memperbaiki diri, meningkatkan ketakwaan, menjaga hubungan sosial, dan memberikan manfaat bagi lingkungan.
Kita perlu menyadari bahwa setiap manusia mempunyai kesempatan untuk menjadi bagian dari kebaikan. Tidak harus menunggu memiliki kekayaan, kekuasaan, atau kedudukan tinggi untuk memberikan manfaat.
Mulailah dari hal sederhana: memperbaiki niat, menjaga ucapan, menghormati orang lain, membantu sesama, merawat lingkungan, dan menghilangkan sifat buruk dari dalam diri.
Memayu Hayuning Bawana adalah tekad untuk menjadikan kehidupan lebih baik, sedangkan Ambrasta Dur Hangkara adalah keberanian untuk menghancurkan segala sifat buruk yang menghalanginya.
Semoga filosofi luhur tersebut menjadi inspirasi untuk membangun pribadi yang beriman, berakhlak mulia, rendah hati, bermanfaat bagi sesama, serta ikut mewujudkan kehidupan yang damai, sejahtera, dan diridai Allah SWT.
Aamiin ya Rabbal 'alamin.
By Suprapto BZ




Posting Komentar