Kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari berbagai ujian, tantangan, dan perubahan. Ada kalanya seseorang memperoleh kebahagiaan, keberhasilan, kesehatan, dan kelapangan rezeki. Namun, ada pula saat ketika manusia harus menghadapi kesulitan, kegagalan, kehilangan, penyakit, kesedihan, bahkan keadaan yang tidak sesuai dengan harapan. Dalam menghadapi dinamika kehidupan tersebut, diperlukan sikap bijaksana agar manusia tidak mudah menyerah, putus asa, atau mengambil keputusan yang merugikan dirinya sendiri maupun orang lain.
Masyarakat Jawa memiliki berbagai filosofi kehidupan yang mengandung nilai-nilai luhur sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan. Salah satunya adalah ungkapan "Sabar iku subur", yang secara sederhana dapat diartikan bahwa kesabaran akan menghasilkan kesuburan, kebaikan, dan kebermanfaatan dalam kehidupan.
Filosofi ini mengajarkan bahwa kesabaran bukanlah sikap pasif, menyerah, atau membiarkan keadaan berjalan tanpa usaha. Sebaliknya, kesabaran merupakan kekuatan batin untuk menghadapi persoalan dengan tenang, berpikir jernih, mengendalikan emosi, serta terus melakukan ikhtiar untuk mencapai tujuan yang baik.
Kata "subur" dalam ungkapan tersebut dapat dimaknai sebagai tumbuhnya kebaikan, berkembangnya potensi diri, membuahkan hasil yang bermanfaat, dan terciptanya kehidupan yang lebih sejahtera. Sebagaimana tanah yang subur membutuhkan waktu, perawatan, air, dan kesabaran agar menghasilkan tanaman yang baik, demikian pula kehidupan manusia membutuhkan proses, ketekunan, dan kesabaran untuk menghasilkan keberhasilan.
Menariknya, filosofi Jawa ini memiliki keselarasan dengan ajaran Islam. Al-Qur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW memberikan perhatian besar terhadap kesabaran sebagai salah satu sifat utama orang beriman. Oleh karena itu, nilai "Sabar iku subur" dapat menjadi pedoman dalam membangun kehidupan yang lebih baik, baik secara pribadi, keluarga, sosial, maupun spiritual.
1. Memahami Makna Filosofi Jawa "Sabar Iku Subur"
Secara bahasa, sabar berarti kemampuan menahan diri, mengendalikan hawa nafsu, dan tetap teguh dalam menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan. Sementara itu, subur menggambarkan keadaan yang produktif, berkembang, menghasilkan, dan memberikan manfaat.
Dengan demikian, "Sabar iku subur" mengandung pesan bahwa kesabaran merupakan salah satu kunci tumbuhnya kebaikan dan keberhasilan dalam kehidupan.
Filosofi ini mengajarkan beberapa nilai penting.
Pertama, kesabaran membutuhkan keteguhan hati.
Seseorang yang sabar tidak mudah goyah ketika menghadapi kesulitan. Ia mampu mempertahankan prinsip kebaikan meskipun harus melalui perjalanan yang panjang dan penuh tantangan.
Kedua, kesabaran memberikan kesempatan untuk berpikir jernih.
Ketika menghadapi masalah, seseorang sering kali dikuasai emosi. Kemarahan, kekecewaan, dan ketakutan dapat menyebabkan keputusan yang tergesa-gesa. Kesabaran memberikan ruang untuk berpikir, mempertimbangkan akibat, dan memilih tindakan yang tepat.
Ketiga, kesabaran membutuhkan proses dan waktu.
Tidak semua keinginan dapat diwujudkan secara cepat. Pendidikan, pekerjaan, usaha, membangun keluarga, dan memperbaiki kualitas diri membutuhkan proses yang berkesinambungan.
Keempat, kesabaran harus disertai usaha.
Kesabaran bukan alasan untuk bermalas-malasan atau menyerah terhadap keadaan. Seseorang harus tetap bekerja, belajar, berdoa, dan memperbaiki diri.
Dengan demikian, kesabaran bukan sekadar kemampuan menunggu, melainkan kemampuan menjalani proses dengan penuh tanggung jawab dan keyakinan.
2. Kesabaran dalam Perspektif Al-Qur'an
Islam menempatkan sabar sebagai salah satu sifat penting bagi orang beriman. Banyak ayat Al-Qur'an yang menjelaskan kedudukan sabar dalam menghadapi ujian kehidupan.
a. Allah Bersama Orang-Orang yang Sabar
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 153:
"Yā ayyuhallażīna āmanusta'īnū biṣ-ṣabri waṣ-ṣalāh, innallāha ma'aṣ-ṣābirīn."
Artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar."
Ayat ini mengajarkan bahwa kesabaran harus menjadi bagian dari kehidupan seorang muslim. Ketika menghadapi kesulitan, manusia dianjurkan untuk bersabar dan mendekatkan diri kepada Allah melalui salat.
Kesabaran memberikan kekuatan untuk menghadapi masalah, sedangkan salat menjadi sarana membangun hubungan spiritual dengan Allah.
Dalam konteks "Sabar iku subur", seseorang yang mampu menggabungkan kesabaran, doa, dan usaha akan memiliki landasan spiritual yang kuat dalam menjalani kehidupan.
b. Kesabaran Mendatangkan Pahala Tanpa Batas
Allah SWT berfirman dalam QS. Az-Zumar ayat 10:
"Innamā yuwaffaṣ-ṣābirūna ajrahum bigairi ḥisāb."
Artinya:
"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas."
Ayat ini menunjukkan betapa besar kedudukan orang yang bersabar di sisi Allah.
Kesabaran tidak selalu memberikan hasil yang langsung terlihat di dunia. Terkadang seseorang harus menerima kenyataan bahwa usahanya belum berhasil, harapannya belum terwujud, atau kesulitannya belum berakhir.
Namun, Islam mengajarkan bahwa kesabaran yang dilakukan karena Allah memiliki nilai ibadah dan pahala yang sangat besar.
c. Kesulitan Selalu Disertai Kemudahan
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Insyirah ayat 5–6:
"Fa inna ma'al-'usri yusrā. Inna ma'al-'usri yusrā."
Artinya:
"Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan."
Ayat ini memberikan harapan bahwa kesulitan bukanlah akhir dari perjalanan hidup.
Setiap persoalan memiliki kemungkinan jalan keluar, meskipun terkadang manusia belum mampu melihatnya. Oleh karena itu, seorang muslim tidak seharusnya kehilangan harapan ketika menghadapi kesulitan.
Kesabaran membantu manusia bertahan, sementara ikhtiar membantunya menemukan jalan menuju kemudahan.
d. Allah Menguji Manusia untuk Mengetahui Kesabarannya
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 155–157 bahwa manusia akan diuji dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.
Allah memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu mereka yang ketika ditimpa musibah mengucapkan:
"Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn."
Artinya:
"Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali."
Ayat ini mengajarkan bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Ada ujian yang harus diterima dengan keimanan, keteguhan, dan kesadaran bahwa segala sesuatu merupakan milik Allah.
Kesabaran membantu manusia menerima kenyataan tanpa kehilangan semangat untuk memperbaiki keadaan.
3. Kesabaran dalam Hadits Nabi Muhammad SAW
Selain Al-Qur'an, Rasulullah SAW juga memberikan teladan dan tuntunan tentang pentingnya kesabaran.
a. Kesabaran Merupakan Anugerah Terbaik
Rasulullah SAW bersabda:
"Wa man yataṣabbar yuṣabbirhullāh, wa mā u'ṭiya aḥadun 'aṭā'an khairan wa awsa'a minaṣ-ṣabr."
Artinya:
"Barang siapa berusaha untuk bersabar, Allah akan menjadikannya mampu bersabar. Dan tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran."
(HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits ini menjelaskan bahwa kesabaran dapat dilatih dan dikembangkan. Seseorang tidak harus langsung menjadi pribadi yang sempurna dalam mengendalikan emosi.
Dengan latihan, pembiasaan, doa, dan kesungguhan, kemampuan bersabar dapat semakin kuat.
b. Orang Beriman Selalu Mendapatkan Kebaikan
Rasulullah SAW bersabda:
"Ajaban li amril-mu'min, inna amrahu kullahu khair."
Artinya:
"Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya."
(HR. Muslim).
Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa apabila seorang mukmin memperoleh kesenangan, ia bersyukur dan hal itu menjadi kebaikan baginya. Apabila mendapatkan kesulitan, ia bersabar dan hal itu juga menjadi kebaikan baginya.
Hadits ini mengajarkan keseimbangan dalam menjalani kehidupan. Ketika memperoleh keberhasilan, manusia tidak boleh sombong. Ketika mengalami kegagalan, manusia tidak boleh berputus asa.
Syukur dan sabar merupakan dua sikap yang menjadikan kehidupan seorang muslim lebih bermakna.
c. Kesabaran Sejati Terlihat Ketika Menghadapi Musibah
Rasulullah SAW bersabda:
"Innamāṣ-ṣabru 'indaṣ-ṣadmatil-ūlā."
Artinya:
"Sesungguhnya kesabaran itu adalah pada saat pertama kali tertimpa musibah."
(HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits ini menunjukkan bahwa kesabaran sejati terlihat ketika seseorang pertama kali menghadapi peristiwa yang mengejutkan, menyedihkan, atau menyakitkan.
Mengendalikan diri pada saat emosi sedang memuncak bukanlah perkara mudah. Namun, justru pada saat itulah kesabaran memiliki nilai yang sangat penting.
4. Tiga Bentuk Kesabaran dalam Kehidupan
Dalam ajaran Islam, kesabaran dapat dipahami melalui tiga bentuk utama yang saling melengkapi.
Pertama, sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah.
Melaksanakan ibadah membutuhkan kesungguhan dan kedisiplinan. Salat lima waktu, membaca Al-Qur'an, berpuasa, bersedekah, dan menjaga amanah memerlukan konsistensi.
Seseorang harus mampu melawan rasa malas, menahan keinginan yang berlebihan, serta membiasakan diri untuk melakukan kebaikan.
Kesabaran dalam ketaatan akan menumbuhkan keimanan dan membentuk karakter yang lebih baik.
Kedua, sabar dalam menjauhi kemaksiatan.
Manusia memiliki hawa nafsu dan berbagai keinginan. Tidak semua keinginan harus dipenuhi karena ada batasan agama, moral, dan hukum.
Kesabaran diperlukan untuk menghindari kebohongan, keserakahan, korupsi, fitnah, permusuhan, dan perbuatan yang merugikan orang lain.
Orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya akan lebih mudah menjaga kehormatan dan kepercayaan.
Ketiga, sabar dalam menghadapi musibah dan ketentuan Allah.
Penyakit, kehilangan pekerjaan, kegagalan usaha, persoalan keluarga, dan berbagai kesulitan lainnya merupakan bagian dari dinamika kehidupan.
Kesabaran membantu seseorang menerima kenyataan, menjaga harapan, serta tetap berusaha mencari penyelesaian.
Ketiga bentuk kesabaran tersebut apabila diterapkan secara konsisten akan membentuk pribadi yang lebih kuat, dewasa, dan bertanggung jawab.
5. Penerapan Filosofi "Sabar Iku Subur" dalam Kehidupan Sehari-hari
Filosofi ini bukan sekadar ungkapan bijaksana, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
a. Dalam Membangun Keluarga yang Harmonis
Keluarga merupakan tempat pertama manusia belajar tentang kesabaran.
Hubungan suami istri, orang tua dan anak, serta hubungan antarsaudara tidak selalu berjalan tanpa persoalan.
Perbedaan pendapat, karakter, kebiasaan, dan kepentingan dapat menimbulkan kesalahpahaman.
Kesabaran diperlukan untuk mendengarkan, memahami, memaafkan, dan mencari penyelesaian secara bijaksana.
Orang tua juga membutuhkan kesabaran dalam mendidik anak. Pendidikan karakter tidak dapat dibangun dalam waktu singkat, melainkan membutuhkan keteladanan dan pembiasaan.
Keluarga yang dibangun dengan kesabaran, kasih sayang, komunikasi, dan tanggung jawab akan lebih berpeluang tumbuh menjadi keluarga yang harmonis.
b. Dalam Bekerja dan Membangun Usaha
Keberhasilan dalam pekerjaan maupun usaha membutuhkan proses panjang.
Tidak semua usaha langsung menghasilkan keuntungan. Ada masa ketika seseorang harus menghadapi persaingan, kerugian, keterbatasan modal, dan perubahan keadaan.
Filosofi "Sabar iku subur" mengajarkan agar seseorang tidak mudah menyerah ketika menghadapi hambatan.
Kesabaran harus disertai disiplin, inovasi, evaluasi, kejujuran, dan kerja keras.
Seorang petani, misalnya, tidak dapat memanen tanaman segera setelah menanam benih. Ia harus mengolah tanah, menyiram, memberi pupuk, membersihkan gulma, dan menjaga tanaman sampai waktunya menghasilkan.
Demikian pula dalam bekerja dan berusaha. Hasil yang baik biasanya lahir dari proses yang dijalankan secara tekun dan berkesinambungan.
c. Dalam Menghadapi Penyakit dan Ujian Kesehatan
Ketika seseorang mengalami penyakit, kesabaran menjadi kekuatan penting untuk menghadapi proses pengobatan dan pemulihan.
Ada penyakit yang dapat sembuh dalam waktu singkat, tetapi ada pula yang membutuhkan pengobatan jangka panjang.
Kesabaran diperlukan agar seseorang tidak mudah putus asa, tetap menjalankan pengobatan, menjaga pola makan, berolahraga sesuai kemampuan, dan mengikuti anjuran tenaga medis.
Dalam Islam, kesabaran menghadapi penyakit juga menjadi bagian dari ibadah apabila dijalani dengan keimanan.
Namun, sabar bukan berarti menolak pengobatan atau membiarkan penyakit tanpa penanganan. Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk berobat.
Dengan demikian, kesabaran harus berjalan bersama ikhtiar medis, doa, dan tawakal.
d. Dalam Kehidupan Bermasyarakat
Masyarakat terdiri atas individu dengan latar belakang, pemikiran, dan kepentingan yang berbeda.
Perbedaan tersebut dapat menimbulkan perselisihan apabila tidak disikapi dengan bijaksana.
Kesabaran mengajarkan manusia untuk menghargai perbedaan, menghindari pertengkaran, tidak mudah menyebarkan berita yang belum jelas, serta mengutamakan musyawarah.
Allah SWT berfirman dalam QS. Ali 'Imran ayat 134 bahwa orang-orang bertakwa adalah mereka yang menafkahkan hartanya dalam keadaan lapang maupun sempit, menahan amarah, dan memaafkan kesalahan orang lain.
Ayat ini menunjukkan bahwa kesabaran memiliki hubungan erat dengan pengendalian emosi, kepedulian sosial, dan sikap pemaaf.
Masyarakat yang anggotanya mampu bersabar akan lebih mudah membangun kerukunan, persaudaraan, dan gotong royong.
e. Dalam Menghadapi Perkembangan Zaman
Perkembangan teknologi dan informasi memberikan banyak kemudahan, tetapi juga menghadirkan tantangan.
Informasi yang berlebihan, persaingan sosial, budaya serba cepat, dan keinginan memperoleh sesuatu secara instan dapat memengaruhi ketenangan jiwa.
Kesabaran diperlukan agar seseorang tidak mudah terbawa arus, tidak tergesa-gesa mengambil keputusan, dan mampu menggunakan teknologi secara bijaksana.
Sikap sabar juga membantu manusia memahami bahwa keberhasilan orang lain tidak harus menjadi ukuran keberhasilan dirinya.
Setiap orang memiliki perjalanan, kemampuan, dan kesempatan yang berbeda.
6. Hubungan Kesabaran dengan Kesehatan Fisik dan Mental
Kesabaran bukan hanya berkaitan dengan kehidupan spiritual, tetapi juga memiliki hubungan dengan kesehatan psikologis.
Orang yang mampu mengendalikan emosi cenderung lebih baik dalam menghadapi tekanan dan menyelesaikan persoalan.
Kesabaran membantu seseorang mengurangi tindakan impulsif, mengelola kemarahan, dan mempertimbangkan keputusan secara lebih rasional.
Dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan mengendalikan stres juga dapat mendukung kebiasaan hidup sehat, seperti menjaga pola makan, tidur cukup, dan berolahraga secara teratur.
Sebaliknya, kemarahan yang terus-menerus, kecemasan berlebihan, dan tekanan emosional dapat mengganggu kualitas hidup.
Meskipun demikian, kesabaran bukan berarti seseorang harus memendam seluruh perasaan atau mengabaikan masalah psikologis. Apabila mengalami tekanan mental yang berat, seseorang tetap perlu mencari dukungan keluarga, lingkungan yang sehat, atau bantuan tenaga profesional.
Kesabaran yang sehat adalah kemampuan menerima perasaan, mengelolanya, dan mengambil langkah yang tepat untuk memperbaiki keadaan.
7. Kesabaran Bukan Berarti Pasrah Tanpa Ikhtiar
Salah satu kesalahpahaman dalam memahami kesabaran adalah menganggap bahwa orang sabar harus menerima semua keadaan tanpa melakukan perubahan.
Pandangan tersebut tidak sesuai dengan semangat ajaran Islam.
Islam mengajarkan bahwa manusia harus berusaha memperbaiki kehidupannya. Allah SWT berfirman dalam QS. Ar-Ra'd ayat 11:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri."
Ayat ini memberikan pelajaran bahwa perubahan membutuhkan kesadaran dan usaha dari manusia.
Kesabaran harus berjalan bersama ikhtiar, doa, dan tawakal.
Misalnya, seseorang yang mengalami kesulitan ekonomi tidak cukup hanya bersabar, tetapi harus berusaha meningkatkan keterampilan, mencari pekerjaan, mengembangkan usaha, dan mengelola keuangan dengan baik.
Seseorang yang menghadapi konflik keluarga tidak cukup hanya diam, tetapi perlu membangun komunikasi dan mencari penyelesaian.
Demikian pula seseorang yang mengalami penyakit harus berusaha mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat.
Dengan demikian, kesabaran merupakan kekuatan untuk tetap berjalan, bukan alasan untuk berhenti berusaha.
8. Langkah-Langkah Melatih Kesabaran agar Kehidupan Lebih Baik
Kesabaran dapat dikembangkan melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Beberapa langkah yang dapat diterapkan antara lain:
1. Memperkuat keimanan kepada Allah. Menyadari bahwa kehidupan merupakan amanah dan setiap manusia akan menghadapi ujian.
2. Membiasakan salat dan berdoa. Menjadikan ibadah sebagai sarana memperoleh ketenangan dan kekuatan batin.
3. Mengendalikan emosi. Tidak langsung bereaksi ketika marah, kecewa, atau tersinggung. Berikan waktu untuk menenangkan diri sebelum mengambil keputusan.
4. Membiasakan berpikir positif dan realistis. Melihat persoalan dari berbagai sudut pandang serta mencari kemungkinan jalan keluar.
5. Menghargai proses. Tidak memaksakan semua keinginan harus terwujud dengan cepat. Belajar menerima bahwa setiap keberhasilan membutuhkan waktu.
6. Melakukan evaluasi diri. Mengakui kesalahan, memperbaiki kekurangan, dan mengambil pelajaran dari pengalaman.
7. Memperbanyak syukur dan berbuat baik. Tidak hanya berfokus pada sesuatu yang belum dimiliki, tetapi juga menghargai nikmat yang telah diberikan Allah.
8. Menjaga hubungan sosial. Memperbanyak silaturahmi, saling membantu, memaafkan, dan menghindari permusuhan.
Apabila kebiasaan tersebut dilakukan terus-menerus, kesabaran akan tumbuh menjadi karakter yang melekat dalam kehidupan.
9. Hikmah Filosofi "Sabar Iku Subur" bagi Kehidupan yang Lebih Baik
Filosofi "Sabar iku subur" mengandung sejumlah hikmah yang dapat dijadikan pedoman kehidupan.
Pertama, kesabaran membentuk pribadi yang kuat dan tidak mudah menyerah. Seseorang akan lebih mampu menghadapi perubahan dan tantangan kehidupan.
Kedua, kesabaran menumbuhkan kebijaksanaan. Orang yang sabar cenderung lebih berhati-hati dalam berbicara, bertindak, dan mengambil keputusan.
Ketiga, kesabaran membangun hubungan sosial yang harmonis. Kemampuan mengendalikan emosi dan memaafkan dapat mengurangi konflik serta memperkuat persaudaraan.
Keempat, kesabaran menumbuhkan ketekunan dan produktivitas. Seseorang yang mampu menghargai proses akan lebih mudah mempertahankan semangat dalam bekerja dan berkarya.
Kelima, kesabaran memperkuat hubungan manusia dengan Allah. Ketika menghadapi kesulitan, seorang muslim belajar berdoa, berserah diri, dan meningkatkan kualitas keimanannya.
Keenam, kesabaran menjadikan kehidupan lebih bermakna. Manusia tidak hanya mengejar hasil, tetapi juga belajar mengambil hikmah dari setiap perjalanan.
Inilah makna kesuburan yang sesungguhnya: bukan semata-mata keberhasilan memperoleh harta atau kedudukan, melainkan tumbuhnya keimanan, akhlak, ilmu, kesehatan, kebijaksanaan, dan kebermanfaatan bagi sesama.
Filosofi Jawa "Sabar iku subur" merupakan ungkapan sederhana yang mengandung makna mendalam tentang pentingnya kesabaran dalam menjalani kehidupan. Kesabaran menjadi fondasi untuk membangun keteguhan hati, mengendalikan emosi, menghargai proses, menghadapi ujian, dan terus berusaha mencapai tujuan yang baik.
Nilai luhur tersebut memiliki keselarasan dengan ajaran Al-Qur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW. Islam mengajarkan bahwa orang-orang yang sabar akan mendapatkan pertolongan Allah, pahala yang besar, serta kebaikan dalam menghadapi berbagai keadaan kehidupan.
Namun, kesabaran tidak boleh diartikan sebagai sikap pasrah tanpa usaha. Kesabaran harus disertai ikhtiar, doa, ilmu, kerja keras, dan tawakal. Manusia harus tetap berusaha memperbaiki keadaan, sementara hasil akhirnya diserahkan kepada Allah SWT.
Sebagaimana tanah yang subur menghasilkan tanaman yang bermanfaat melalui proses panjang, demikian pula kesabaran akan menumbuhkan kebaikan apabila dipelihara dengan keimanan dan tindakan nyata.
Pada akhirnya, kehidupan yang baik bukanlah kehidupan yang selalu bebas dari masalah, melainkan kehidupan yang dijalani dengan hati yang tenang, pikiran yang jernih, tindakan yang bijaksana, dan keimanan yang kuat.
Sabar iku subur: kesabaran menumbuhkan keteguhan, ketekunan membuahkan keberhasilan, dan keimanan mengantarkan manusia menuju kehidupan yang penuh berkah dan manfaat.
Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa diberikan kekuatan untuk bersabar, kemampuan untuk bersyukur, kesungguhan untuk berikhtiar, serta keteguhan untuk bertawakal kepada Allah SWT. Aamiin ya Rabbal 'alamin.
By Suprapto BZ





Posting Komentar